Kamis, 30 Januari 2014

Faktor-faktor yang Mempengaruhi Harga Emas

Emas adalah komoditi unik, karena merupakan satu-satunya komoditi yang diproduksi untuk akumulasi; tidak seperti semua komoditi lainnya yang diproduksi untuk dikonsumsi. Pada dasarnya semua dari emas yang telah ditambang sepanjang sejarah, masih ada tersedia dan tersimpan di atas tanah. Namun demikian, emas sangat langka.

Tahukah Anda, bahwa seluruh emas yang berada diatas tanah hanya sekitar 155.000 ton. Jika ada suatu kesempatan, dapat kita kumpulkan semua emas tersebut dan memasukkan emas tersebut ke dalam satu lubang penyimpanan, ukurannya akan menjadi 8.000 meter kubik, berisi dengan jumlah yang sama dengan dasar satu per lima Washington Monument atau 3 ¼ kolam renang ukuran olimpiade. Hal penting lainya yang juga mengherankan untuk dicatat bahwa, dalam satu hari dua puluh kali lebih banyak baja yang dituangkan dari total berat emas yang ditambang sepanjang sejarah.

Pengamatan tentang moneter ini berarti bahwa permintaan emas sebagai uang. Dengan kata lain, emas adalah bangkit karena manfaat yang besar, timbul dari akibat atribut yang membuat uang.

Banyak keuntungan yang membuat emas sebagai uang. Mungkin paling penting dalam saat ini, ditandai dengan inflasi tahunan nasional mata uang kertas, emas sebagai uang yang tidak dapat dibuat 'dari udara tipis' dengan persetujuan pemerintah. Satu lagi faktor penting yang menjadikan emas sebagai uang, adalah ‘gunung hutang’ dan kemunduran keuangan yang menggantung perekonomian dunia.

Kegagalan Bank
Ketika emas sepenuhnya ditukar menjadi uang kertas, kedua bentuk uang tetap dianggap sebagai alat pembayaran. Tetapi, kebanyakan orang lebih menyukai untuk membawa uang kertas daripada uang emas yang lebih berat dan tidak dapat dibagi. Jika orang khawatir bank mereka akan gagal, orang mengambil uang secara beramai-ramai di bank. Ini adalah apa yang terjadi di AS selama Depresi luar biasa tahun 1930an, menyebabkan Presiden Roosevelt memaksakan keadaan darurat nasional dan melarang menimbun emas oleh warganegara AS. Kejadian ini dikenal sebagai Executive Order 6102 yang sekarang sudah diakhiri.

Suku Bunga yang Rendah atau Negatif
Jika pengembalian obligasi, equities dan properti tidak memadai atau tidak mengganti kerugian yang diderita karena risiko dan inflasi, hal ini akan memicu permintaan akan emas dan investasi alternatif lain seperti pertambahan komoditas. Contoh masa seperti ini dapat dilihat pada saat Stagflation yang terjadi selama tahun 1970an dan yang menyebabkan gelembung ekonomi berlomba untuk menyimpan emas

Perang, Serbuan, Penjarahan, Krisis
Pada masa nasional kegawatan, ketakutan orang bahwa aset mereka mungkin tidak dapat dimanfaatkan dan bahwa mata uang mungkin menjadi tidak berguna. Mereka melihat emas sebagai aset kuat untuk membeli makanan atau transportasi. Dengan begitu pada masa ketidaktentuan luar biasa, teristimewa dalam ketakutan perang, maka permintaan akan naik.


(sumber)
@OptimasiEmas

Emas sebagai “Safe Haven”

Dari semua bentuk logam, emas adalah yang paling populer digunakan sebagai sarana investasi. Sepanjang sejarah, harga emas sudah sering dipakai sebagai uang dan sebagai tolak ukur atau patokan harga untuk komoditas lainnya.

Sesudah perang Dunia ke II standar emas dibentuk mengikuti konferensi 1946 Bretton Woods, untuk memperbaiki peraturan dan prosedur standar harga emas dengan patokan harga $35 per Troy Ounce (1 Troy Ounce = 31.1035 Gram). Sistem tersebut terbentuk dan dipakai sampai tahun 1971 , ketika presiden Nixon, AS, menghentikan secara langsung sistem harga emas tersebut dengan dolar Amerika Serikat.
Sejak 1968 patokan harga emas dikenal sebagai London Gold Fixing, sebuah hubungan perdagangan dengan menggunakan telepon sebanyak dua kali dalam satu hari menjumpai wakil dari lima perusahaan untuk bertukar batangan emas. Selanjutnya, hubungan bertukar emas batangan itu berkembang dan menjadi perdagangan aktif berdasarkan intra-hari Spot harga emas, Spot harga emas didapat dari pasar yang bertukar emas di seluruh dunia sewaktu mereka membuka dan tutup pasar sepanjang hari.

Penanam modal atau para investor secara umum membeli emas sebagai ‘pagar asuransi harga’ terhadap aset yang biasa yang dikenal dengan istilah “Hedging” atau tempat berlindung aman “Safe Haven” dari kekacauan ekonomi, gejolak politik, sosial, atau pergerakan kurs mata uang. Kekacauan ini termasuk kemunduran pasar investasi, inflasi, perang, dan pergolakan sosial. Investor juga membeli emas selama waktu pasar emas sedang naik “Bullish” untuk memperoleh keuntungan laba “Profit”.


Follow @OptimasiEmas

Selasa, 28 Januari 2014

"Ketika Cinta Ber-Tajwid"

Saat pertama kali berjumpa denganmu, aku bagaikan berjumpa dengan saktah, hanya bisa terpana dengan menahan nafas sebentar.

Aku di matamu mungkin bagaikan nun mati di antara idgham billagunnah, terlihat tapi dianggap tak ada.

Aku ungkapkan maksud dan tujuan perasaanku seperti Idzhar, jelas dan terang.

Jika mim mati bertemu ba disebut ikhfa syafawi, maka jika aku bertemu dirimu, itu disebut cinta.

Sejenak pandangan kita bertemu, lalu tiba - tiba semua itu seperti Idgham mutamaatsilain, melebur jadi satu.

Cintaku padamu seperti Mad Wajib Muttasil, paling panjang di antara yang lainnya.

Setelah kau terima cintaku nanti, hatiku rasanya seperti Qalqalah kubro, terpantul- pantul dengan keras.

Dan akhirnya setelah lama kita bersama, cinta kita seperti Iqlab, ditandai dengan dua hati yang menyatu.

Sayangku padamu seperti mad thobi’i dalam Quran. Buanyaaakkk beneerrrrr :D

Semoga dalam hubungan kita ini kayak idgham bilagunnah, cuma berdua, lam dan ro’.

Layaknya waqaf mu’annaqah, engkau hanya boleh berhenti di salah satunya. Dia atau aku?

Meski perhatianku tak terlihat seperti alif lam syamsiah, cintaku padamu seperti alif lam Qomariah, terbaca jelas.

Kau dan aku seperti Idghom Mutaqorribain, perjumpaan 2 huruf yang sama makhrajnya tapi berlainan sifatnya.

Aku harap cinta kita seperti waqaf lazim, berhenti sempurna di akhir hayat.

Sama halnya dengan Mad ‘aridh dimana tiap mad bertemu lin sukun aridh akan berhenti, seperti itulah pandanganku ketika melihatmu.

Layaknya huruf Tafkhim, namamu pun bercetak tebal di pikiranku.

Seperti Hukum Imalah yang dikhususkan untuk Ro’ saja, begitu juga aku yang hanya untukmu.

Semoga aku jadi yang terakhir untuk kamu seperti mad aridlisukun :D




Sumber: Forum milist email

Evaluasi Diri Sendiri

Seorang bocah laki-laki masuk ke sebuah toko. Ia mengambil peti minuman dan mendorongnya ke dekat pesawat telepon koin. Lalu, ia naik ke atasnya sehingga ia bisa menekan tombol angka di telepon dengan leluasa. Ditekannya tujuh digit angka. Si pemilik toko mengamati-amati tingkah bocah ini dan menguping percakapan teleponnya.

Bocah: “Ibu, bisakah saya mendapat pekerjaan memotong rumput di halaman Ibu?”

Ibu (di ujung telepon sebelah sana): “Saya sudah punya orang untuk mengerjakannya.”

Bocah: “Ibu bisa bayar saya setengah upah dari orang itu.”

Ibu: “Saya sudah sangat puas dengan hasil kerja orang itu.”

Bocah (dengan sedikit memaksa): “Saya juga akan menyapu pinggiran trotoar Ibu dan saya jamin di hari Minggu halaman rumah Ibu akan jadi yang tercantik di antara rumah-rumah yang berada di kompleks perumahan ibu.”

Ibu: “Tidak, terima kasih.”

Dengan senyuman di wajahnya, bocah itu menaruh kembali gagang telepon. Si pemilik toko, yang sedari tadi mendengarkan, menghampiri bocah itu.

Pemilik Toko: “Nak, aku suka sikapmu, semangat positifmu, dan aku ingin menawarkanmu pekerjaan.”

Bocah: “Tidak. Makasih.”

Pemilik Toko: “Tapi tadi kedengarannya kamu sangat menginginkan pekerjaan.”

Bocah: “Oh, itu, Pak. Saya cuma mau mengecek apa kerjaan saya sudah bagus. Sayalah yang bekerja untuk Ibu tadi!”

Seperti anak kecil ini, sebaiknyalah kita mengevaluasi tentang apa yang kita kerjakan di tahun ini untuk memastikan kualitas yang lebih baik di tahun depan.


Sumber: Milist Email

Ketidakpastian Nilai Nominal dan Nilai Manfaat Uang Kertas


Uang kertas itu punya dua nilai, pertama Nilai Nominal. 1000, 2000, 1jt, 100jt. Yang kedua Nilai Manfaat, contoh 2000 bisa buat bayar parkir, 1000 bisa buat beli rokok, dsb.

Sayangnya si uang kertas ini, antara nilai nominal dan manfaatnya ini selalu berubah. Contoh, 1 juta hari ini nilai manfaatnya berbeda dengan 1jt di 10 tahun yang lalu atau 10 tahun yang akan datang. Dan berubahnya itu makin nyusut. Uang 1 juta tahun 1980 bisa membeli sepeda motor baru, dari showroom lagi, tapi hari ini uang 1 juta hanya bisa membeli sepeda tanpa motor, sepeda anak-anak pula.

Ini yang paling menyebalkan dari Uang Kertas, KETIDAKPASTIAN. Antara Nilai Nominal dan Nilai Manfaatnya selalu berubah.

Sementara itu, uang Dinar EMAS umat Islam, dari zaman Islam mulai berkembang dulu sampai saat ini zaman internet, 1 Koin Dinar EMAS masih tetap bisa membeli seekor kambing yang layak. Nah ini yang bener, NILAI NOMINAL dan NILAI MANFAATNYA selalu sama, tidak pernah berubah. Ini yang bener, memberikan kepastian kepada penggunanya terutama dalam berniaga.

Tahun 2007, seandainya saat itu saya punya uang 1 Milyar, kemudian uang tersebut saya depositokan dengan suku bunga 10% per tahun, kemudian bunga dari deposito tersebut tidak saya ambil alias ditambahkan kembali ke deposito tersebut, istilahnya bunga berbunga. Maka uang saya 5 tahun kemudian akan menjad 1,67 Milyar, itupun belum dipotong pajak.

Sementara, tahun 2007 harga EMAS saat itu 200 ribuan/gram. Seandainya uang 1 Milyar tersebut saya belikan EMAS, maka saya akan memperoleh EMAS sebanyak 5 kilo gram.

Nah, 5 tahun kemudian harga EMAS menjadi 520 ribuan/gram. Ternyata uang Rp 1,67 Milyar tersebut 5 tahun kemudian tidak mampu dipakai untuk membeli Emas sebanyak 5 kilo gram lagi. Karena untuk membeli EMAS sebanyak 5 kilo gram, saya membutuhkan dana sedikitnya 2,6 Milyar. Artinya selama 5 tahun saya sudah KEHILANGAN daya beli sekitar 1 Milyar.

Makanya saya bilang, sebuah kebodohan kalau kita masih nyimpan uang kertas lama-lama.

Investasi Emas; Lebih Baik Cicil atau Beli Secara Gradual?

Pada sebuah seminar tentang Pembiayaan Emas atau Cicilan Emas yang diselenggarakan oleh salah satu Bank Syariah, ada sebuah pertanyaan dari seorang peserta. “Pak, untung mana ambil Cicilan Emas atau membeli Emas sedikit-sedikit rutin setiap bulan? Dengan jumlah dana dan waktu yang sama?”.

Saya koreksi dulu pertanyaannya, bukan “untung”, tapi lebih maksimum mana atau lebih banyak mana jumlah EMAS yang bisa diperolehnya. Terus terang saya kurang suka dengan istilah “untung” pada investasi Emas ini, kenapa? nanti kita bahas dikesempatan berbeda.

Kelebihan dari program seperti pembiayaan Emas atau Cicilan Emas yang dimiliki oleh Bank Syariah ini adalah, Anda seperti mengunci harga Emas di hari pada saat Anda melakukan akad cicilan. Setelah Anda melakukan akad, kemudian muncul jumlah cicilan per-bulan, maka itulah yang harus Anda selesaikan sampai dengan lunas. Bagaimanapun pergerakan harga Emas tidak mempengaruhi lagi jumlah cicilan Emas Anda.

Kenapa? Karena pinjaman Anda dalam bentuk uang, bukan Emas. Bank Syariah memberikan kita pinjaman uang untuk pembelian Emas, uang tersebut + uang muka, dipakai untuk membeli Emas di Toko Emas yang menjadi rekanan bank, lunas. Setelah Emasnya diperoleh, Emas tersebut menjadi jaminan atas pinjaman yang diberikan. Jadi pinjaman Anda uang bukan Emas, pinjaman tersebut yang Anda cicil sampai lunas, setelah lunas baru Emas yang menjadi jaminan itu diserahkan pada Anda. Begitu kurang lebih mekanismenya.
Untuk menjawab pertanyaan peserta Seminar di atas, saya akan pakai data mundur ke belakang.

Pada tahun 2007, harga Emas itu sekitar Rp 200.000/gram. Seandainya saya punya target untuk memiliki 500 gram Emas dalam 5 tahun ke depan (mis untuk biaya kuliah anak) dan seandainya juga tahun 2007 Bank Syariah sudah mengeluarkan program ini. Maka, nilai Emas 500 gram saat itu setara dengan uang Rp 100.000.000. Kemudian saya ambil program Cicilan Emas, untuk membiayai kepemilikan Emas 500 gram tersebut, perhitungannya kurang lebih seperti ini:

EMAS 500g = Rp 100.000.000
Down Payment atau Uang Muka 20% = Rp 20.000.000
Cicilan Selama 60 bulan = Rp 2.200.000/bulan


Contoh di atas kalau kita menggunakan pembiayaan Emas atau Cicilan Emas di salah satu Bank Syariah. Sekarang kita balik, dengan tidak menggunakan program tersebut. Uang DP Rp 20.000.000 saya gunakan untuk membeli Emas saat itu, maka saya akan memperoleh Emas sebanyak 100 gram (100 gram x Rp 200.000/gram = Rp 20.000.000). Kemudian setiap bulan, saya membeli Emas senilai Rp 2.100.000, sama seperti mencicil, selama 60 bulan.

Ternyata setelah saya hitung (berdasarkan data historis Emas yang saya miliki), selama 60 bulan tersebut, saya hanya bisa membeli maksimum 280 gram ditambah pembelian awal sebanyak 100 gram, total seluruhnya 380 gram. Itupun dengan beberapa catatan.

1. Harga Emas berubah setiap hari, sehingga jumlah Emas yang bisa diperoleh dengan uang yang sama semakin sedikit.
2. Kemudian, uang Rp 2.100.000 hanya bisa membeli Emas dengan jumlah gram kecil, sementara kita tahu bahwa semakin kecil jumlah gram, semakin mahal ongkosnya.
3. Tidak maksimum dalam pembelian, misalnya harga Emas 5 gram = Rp 1.800.000, dengan uang Rp 2.100.000 anda tidak bisa membeli Emas 6 gram, ahirnya sia-sialah uang sisanya. Walaupun anda simpan untuk pembelian Emas bulan berikutnya, hargapun sudah berubah lagi.

Oleh karena itu, produk pembiayaan atau Cicilan Emas seperti yang dimiliki oleh Perbankan Syariah, adalah produk yang sangat luar biasa, kita seperti mengunci harga Emas di hari ini, kita seperti membeli masa depan. Emas bisa dijadikan alat untuk mengukur biaya di masa yang akan datang, cicilan Emas bisa untuk membeli masa depan.

Satu lagi, seandainya dalam perjalanan, Anda kehilangan kemampuan untuk membayar
Cicilan, Emas yang menjadi jaminan bisa di jual segera di harga saat itu untuk melunasi pinjaman kita, dana kelebihannya dikembalikan kepada Anda. Jadi ini satu-satunya pembiayaan yang tidak kenal yang namanya debt collector.

Lalu, kenapa sering saya sarankan untuk mengambil pembiayaan Emas ini dengan tenor minimal 3 tahun atau idealnya 5 tahun?

Pertama, Anda coba perhatikan historis harga emas, dari tahun 1996, Emas naik minimal 2 kali lipat setiap 5 tahun, tapi ini bukan berarti tiap tahun 20% ya… hati-hati. Jadi mengambil Cicilan Emas dengan tenor di atas 3 tahun paling ideal menurut saya.

Kedua, saya lebih mengutamakan jumlah Emas daripada percepatan lunas. Misalnya, saya mampu menyisihkan Rp 500.000/bulan, maka saya akan cari Cicilan Emas yang 5 tahun, daripada yang 3 tahun, kenapa? Dengan mengambil yang 5 tahun, jumlah Emas yang bisa saya peroleh lebih besar dibandingkan yang 3 tahun dengan jumlah cicilan yang sama. Di simpan di Bank lama juga nggak apa-apa, aman malah. Anggap saja dipaksa nabung.

Cobalah manfaatkan produk Cicilan Emas ini untuk perencanaan pembiayaan sekolah putra-putri Anda, saya yakin sekali, setelah lunas nanti, Anda akan berterima kasih pada saya.





Senin, 27 Januari 2014

Emas adalah Induk dari Semua Mata Uang

Dalam dekade 1930-an yang dikenal sebagai masa kelam ekonomi dunia. Great American Despression. Coba lihat film “Cinderella Man”, film layar lebar yang menceritakan seorang juara dunia tinju berat ringan yang untuk makan saja terpaksa harus mengantri. Sungguh kondisi ekonomi yang parah.
Kondisi ini masih diperparah dengan adanya perang dunia I sehingga banyak orang rela untuk berperang daripada bekerja. Toh tidak ada lapangan kerja yang tersedia.
Untuk mengatasi kekelaman ekonomi dikala it, maka dibuat dan ditandatanganilah perjanjian Bretton Woods sesuai nama hotel tempat perjanjian tersebut ditanda-tangani.
Salah satu isi dari perjanjian tersebut ialah membatasi percetakan atau pembuatan mata uang, bila tanpa disertai cadangan emas yang cukup bagi negara yang bersangkutan.
Walaupun pada akhirnya perjanjian ini dibatalkan oleh Amerika di tahun 1971, namun satu kesimpulan yang diperoleh adalah “The Mother of all money is GOLD”. ( Induk dari semua mata uang adalah emas ). Hal ini lah yang menjadikan pentingnya emas dalam dunia perekonomian modern, pasca Great American Despression.

EMAS VS PERANG
Ada satu kelakuan emas yang hampir selalu terjadi. Setiap ada ketidak pastian di bidang ekonomi, maka harga emas akan selalu meroket. Fakta sebaliknya, setiap ada kepastian (baca: kondisi perekonomian yang terus meningkat) maka harga emas akan menurun.
Dengan demikian, setiap kali terjadi perang atau ancaman perang, maka harga emas akan meroket. Bicara perang disini bukan hanya tentang senjata dan peluru tetapi juga ketidak pastian di bidang ekonomi. Bila kita runut maka menjelang perang teluk di bulan Agustus 1990 dapat disaksikan harga emas mencapai titik tertinggi di level 415US$/Troy Ounce. Ditahun 2008, ketika mulai terjadi perang terhadap krisis Subprime Mortgage, maka emas juga mulai meroket dan tembus hingga level 1000US$/Troy Ounce ke atas. Kondisi ketidak pastian ini terus berlanjut sampai sekarang.

EMAS VS KAMBING
Secara intelektual sudah dibahas tentang emas. Mari simak analisa berikut. Ada satu indikator yang cukup luar biasa tentang emas yaitu cukup bandingkan emas dengan harga kambing.
Semenjak di jaman Nabi Muhammad, harga 1 ekor kambing setara dengan 3 gram emas. Bila emas saat ini berada di 1150US$/TO dan 1US$ = Rp.9450,- maka 1 gram emas setara dengan Rp.350.000,-. Dan berdasarkan info terakhir sesudah hari raya kurban harga kambing saat ini sekitar Rp.800.000,-. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa untuk memperoleh 1 ekor kambing dibutuhkan cuma 2 gram lebih emas. Inipun artinya harga emas masih terlalu tinggi bila dibandingkan harga kambing.