Senin, 03 Februari 2014

Cara Mengetahui Ciri-Ciri Emas Asli Atau Palsu

Emas palsu adalah emas dengan kadar yang sangat rendah, misal 10 karat atau kurang. Tidak ada ukuran pasti. Kita pasti ingin tahu apakah emas yang akan kita beli atau emas yang sudah kita miliki adalah emas asli. Sebagai tips awal, jika ingin berinvestasi emas pastikan membeli di toko-toko emas dengan sertifikasi yang sudah terkenal/teruji misalkan kalau di Indonesia ya LM emas keluaran Antam atau dinar keluaran gerai dinar (yang dicetak juga oleh Antam).
Dengan sertifikasi tersebut paling tidak kita sudah mendapat garansi awal bahwa emas yang kita beli benar-benar asli sesuai spesifikasi yang ada di sertifikat. Tetapi jika ingin memeriksa untuk diri sendiri, berikut adalah beberapa cara untuk mengetahui ciri-ciri emas asli atau palsu atau berkarat rendah. Artikel ini untuk melakukan pengecekan emas secara umum, untuk emas yang bersertifikat antam lain kali akan kita bahasa diartikel tersendiri.

1. Lihat Ciri-Ciri Emas Secara Visual
Cara paling mudah yang untuk memeriksa apakah sebuah emas asli atau palsu adalah dengan melihat ciri-ciri visualnya. Amati tanda-tanda tertentu yang merupakan ciri emas murni. Biasanya dalam logam mulia atau perhiasan emas ada cap yang menandakan kadar emas, misal dalam fineness ( 1-999 atau 0.1-0.999) atau dalam karat ( 10K , 14K , 18K , 22K atau 24K ) . Jika tulisan terlalu kecil gunakan kaca pembesar untuk mempermudah pengamatan. Tetapi tidak semuanya memiliki cap, misal model-model lama. Dan emas palsu bisa jadi juga memiliki cap karat tersebut agar terlihat asli.

Cara kedua adalah cek perubahan warna. Gosok dengan jari pada bagian-bagian tertentu atau cari bagian yang kira-kira sering mendapat gesekan, misal sekitar tepi logam mulia atau koin emas. Emas palsu akan menampakkan warna logam lain yang berbeda di bawahnya sehingga terlihat warna emas tidak seragam dan bergradasi.

2. Gigit Emas-nya
Jika Anda melihat di film-film ada orang menggigit emas atau atlit Olimpiade menggigit medali emas yang baru mereka peroleh, hal tersebut lazim dan bukan tanpa tujuan. Gigit emas Anda dengan tekanan yang sedang. Cek apakah emas tersebut terdapat bekas gigitan. Secara teori, jika emas asli maka akan menunjukkan bekas goresan gigi, bekas tersebut semakin dalam jika emasnya adalah murni 24 karat.

Cara mengigit ini tentu bukan tes yang direkomendasikan, karena selain bisa merusak gigi bisa merusak kondisi fisik emas. Dan tentu saja para pemalsu masih bisa menggunakan timah berlapis emas yang juga cukup “empuk” untuk digigit.

3. Pengujian Emas Dengan Magnet
Ini adalah tes yang mudah meski tidak menentukan pasti bahwa emas benar-benar asli. Minimal kita tahu bahwa emas kita bukan logam besi yang dilapisi emas. Gunakan sebuah magnet yang kuat, jangan gunakan magnet-magnet hias yang digunakan di lemari es. Pegang magnet dan arahkan ke emas. Emas bukanlah logam magnetik , sehingga jika emas yang kita uji tertarik ke magnet dan menempel bisa dipastikan bahwa emas tersebut palsu. Namun, sekali lagi, uji dengan magnet ini bukan jaminan karena banyak logam lain juga yang non-magnetik yang bisa digunakan sebagai emas palsu.

4. Uji Densitas Emas
Sangat jarang logam dengan kepadatan (densitas/massa jenis) melebihi kepadatan emas. Kepadatan emas murni 24K adalah sekitar 19,3 g/ml , jauh melebihi kebanyakan logam lainnya. Mengukur kepadatan emas adalah salah satu cara paling rumit dan paling presisi untuk mengetahui emas asli atau palsu. Sebagai aturan praktis, semakin tinggi kepadatan maka semakin murni emas.

1.Ukur berat emas dalam gram dengan timbangan digital yang presisi.
2.Isi sebuah gelas atau botol dengan jumlah air sembarang ml (milliliter). Gunakan gelas/botol yang memiliki tanda ukuran milimeter, yang akan mempermudah untuk membaca perbedaan volume air sebelum dan sesudah dicelupkan emas. Jadi tujuannya adalah untuk mengukur volume emas dalam ml.
3.Catat jumlah persis tingkat air sebelum emas direndam.
4.Letakkan emas pada gelas dengan menggantungnya menggunakan tali. Setelah emas direndam catat tingkat air yang baru, dan hitung perbedaan sebelum dan sesudah direndam dalam ml.
5.Gunakan rumus berikut untuk menghitung kepadatan : kepadatan = massa / volume. Hasil mendekati angka 19 g/ml menunjukkan kadar emas asli.
6.Contoh perhitungan : Emas yang diuji memiliki berat 38g dan volume 2 mililiter. Menggunakan rumus [massa] / [volume] maka 38/2 = hasilnya adalah 19 g/ml , yang sangat mendekati massa jenis emas.
7.Ingatlah bahwa kemurnian emas yang berbeda akan memiliki g / ml rasio yang berbeda : 14K = 12,9-14,6 g/ml, 18K kuning = 15,2-15,9 g/ml, 18K putih = 14,7-16,9 g/ml dan 22K = 17,7-17,8 g/ml.

5. Goreskan Emas pada Keramik Atau Kertas
Ini juga salah satu cara mudah untuk mengetahui apakah emas asli atau palsu. Tetapi perlu diingat untuk menguji ini ada resiko logam mulia emas yang diuji akan tergores. Ambil piring keramik polos atau gunakan saja keramik lantai. Goreskan emas ke permukaan keramik. Jika ada goresan hitam pada keramik, berarti emas tersebut palsu tetapi jika tidak ada goresan hitam kemungkinan besar adalah asli.

Selain keramik bisa juga menggunakan emas. Sebagai perbandingan, coba goreskan uang logam lama (bukan yang alumunium) ke kertas, pasti goresan akan berwarna hitam. Tetapi jika emas asli maka tidak akan ada goresan sama sekali.

6. Uji Emas Dengan Nitric Acid
Istilah lainnya adalah “tes asam” dan merupakan cara yang cukup bagus untuk menguji keaslian emas. Tetapi tes ini memiliki resiko keselamatan dengan cairan asam, jadi harus berhati-hati sekali. Jika tidak untuk bisnis, sebaiknya tes asam ini diserahkan ke toko perhiasan emas saja. Berikut langkah-langkahnya :

1.Letakkan emas pada wadah stainless steel
2.Beri satu tetes asam nitrat pada emas dan perhatikan reaksi yang dihasilkan
3.Reaksi warna hijau menunjukkan logam besi berlapis emas
4.Reaksi emas menunjukkan logam kuningan berlapis emas
5.Reaksi warna susu menunjukkan logam perak berlapis emas
6.Jika tidak ada reaksi kemungkinan besar adalah emas asli


Follow @OptimasiEmas


(sumber)

Lebih Bijak dalam Berinvestasi Emas

Inilah investasi yang tak lekang zaman. Sebelum ada saham, deposito ataupun reksadana; menyimpan emas telah dilakukan nenek moyang dalam rangka memenuhi kebutuhan besar di hari kemudian. Hingga sekarang, emas juga masih menjadi pilihan investasi yang bersifat pasif. Beli hari ini, simpan di lemari, kemudian dimanfaatkan jika ada kebutuhan dana besar.
Namun seperti apakah investasi emas yang sesuai jalur syariah? Berikut kutipan wawancara Rizky Andriati dari Majalah Sharing dengan praktisi investasi emas sekaligus penulis buku Think Dinar, Endy J. Kurniawan di Jakarta pada pertengahan Maret lalu

1.Di zaman Rasulullah, emas adalah alat transaksi, bukan investasi.
Tanpa meninggalkan nilai-nilai syariah, apakah pas jika emas dijadikan alat investasi?
Jawab :
Di jaman Rasulullah dan sahabat-sahabat penerusnya, full bodied money yang berlaku, yaitu emas dan perak dalam bentuk dinar dan dirham. Berarti dua mata uang ini menjalankan seluruh fungsi yang kita kenal melekat pada uang yaitu : alat simpan kekayaan (dengan ditabung atau dijadikan modal ditanam), alat pengukur nilai (sebagai acuan harga komoditas yang ada di pasar), dan alat tukar (sebagai uang). Karena itulah, maka pada masa beliau SAW tidak ada kenaikan nilai barang yang dipicu penurunan nilai uang (kenaikan harga bisa terjadi hanya jika ada pergerakan pada permintaan dan penawaran). Lalu karena itulah tidak alat investasi yang ‘diam’ atau pasif. Semua harus aktif dan produktif untuk bisa menghasilkan pertambahan nilai dan memberikan keuntungan bagi pemilik asetnya. Sekarang sangat berbeda. Bagi pemilik emas mereka sebut emas sebagai investasi karena melindungi hartanya dari inflasi. Ini pilihan terbaik dibanding menyandarkan simpanan kita pada uang kertas. Selain itu, saat ini emas sangat variatif dalam bentuk seperti emas batangan, koin dinar, perhiasan, bongkahan dan cucian, sehingga masyarakat memiliki preferensinya masing-masing. Di dalam ekonomi yang menggunakan uang kertas sebagai medium transaksi, masyarakat memilih emas karena memiliki fungsi store of value yang tak lekang dimakan jaman.

2. Secara ekonomis, apakah keunggulan investasi emas?
Jawab :
Yang terutama, emas memiliki nilai hakiki dan universal serta ketahanan bentuk karena tak keras dan tak teroksidasi – karena itu pula kemudian emas (selain perak) dijadikan mata uang di beberapa etape peradaban, mulai di Lydia, Romawi hingga Turki Ustmani. Pemilik emas tak terlalu banyak upaya untuk merawatnya. Selain itu, emas secara fitrah dinilai indah oleh masyarakat sehingga memilikinya terasa menyenangkan dan menjadi lambang kesejahteraan. Emas juga liquid mudah dijual-belikan, digadaikan dan dipertukarkan langsung dengan komoditas lainnya sehingga memberi rasa aman ketika kapan saja penyimpannya memerlukan dana tunai.

3. Bagaimanakah cara berinvestasi emas yang paling tepat? Apakah perlu ikut membeli beberapa program investasi emas yang sekarang banyak ditawarkan? Jika perlu, program seperti apa yang layak?
Jawab :
Sebagai investasi pasfi yang fungsinya lebih untuk menjaga nilai aset, maka tidak ada yang lebih mudah dari investasi emas, yaitu membelinya, menyimpan kemudian menjualnya ketika dibutuhkan. Penawaran yang banyak beredar saat ini bisa dibagi 2 besar : 1. Penawaran untuk kepemilikan, seperti skema cicilan atau murabahah emas yang disediakan bank syariah dan pegadaian syariah 2. Penawaran yang me’manufaktur’ emas seolah sebagai investasi aktif dengan cara beli-gadai bertingkat, investasi emas dengan skema cash-back dan kepemilikan saham pertambangan emas. Yang nomor 2 di atas perlu hati-hati terkait ijin operasi, resiko investasi dan lisensi syar’i. Karena banyak kejadian penipuan yang belakangan ini terjadi. Untuk memproduktifkan emas hanya ada dua cara : memperjual-belikannya seperti layaknya toko emas atau menggadai/ menjualnya untuk kemudian diinvestasikan ke jenis investasi aktif lain seperti properti atau bisnis riil/ perdagangan.

4. Sejatinya mengelola kekayaan bukan hanya sekedar mengakumulasi, lalu bagaimana emas bisa memberikan mashlahat bagi banyak orang?
Jawab :
Harta yang baik adalah yang beredar dan menetes ke level ekonomi di bawahnya. Karena minat masyarakat sangat besar 4 tahun terakhir untuk berinvestasi emas, maka bank dan lembaga keuangan non bank membuka layanan kepemilikan emas dengan berbagai skema. Tentu mereka mendapatkan keuntungan, dan keuntungan itu yang kemudian bisa mengalir dalam bentuk layanan bank yang lain seperti kredit usaha dan lainnya. Selain itu ada kewajiban zakat untuk emas yang mencapai nishab dan haul, ini juga bagian dari cara agama mendorong agar sebagian harta orang berpunya mengalir lebih luas. Terakhir, produktifkan emas dengan menggadai/ menjualnya untuk kemudian diinvestasikan ke jenis investasi aktif lain seperti properti atau bisnis riil/ perdagangan. Karena nilainya terjaga, maka emas bisa menjadi penjaga aset pelaku bisnis sekaligus modal liquid yang bisa dicairkan kapan saja.

5.Agar memberikan nilai maksimal, apakah perlu emas digadaikan lalu uang gadainya dimanfaatkan untuk usaha produktif?
Jawab : Jika yang disebut nilai maksimal adalah mendapat kenaikan aset secara pasif, maka emas tak perlu diapa-apakan selain dijual ketika dibutuhkan. Jika tujuannya untuk usaha riil, maka menggadai emas adalah langkah tepat. Selain proses gadai bisa dilakukan cepat dan dilayani sangat luas oleh bank syariah dan pegadaian, emas juga bisa ditebus jika usaha kita mendapatkan keuntungan. Demikian seterusnya sehingga emas bisa membantu menjaga harta.


Follow @OptimasiEmas
Sumber: Majalah “Sharing” edisi 76 Thn VII April 2013

Kamis, 30 Januari 2014

Faktor-faktor yang Mempengaruhi Harga Emas

Emas adalah komoditi unik, karena merupakan satu-satunya komoditi yang diproduksi untuk akumulasi; tidak seperti semua komoditi lainnya yang diproduksi untuk dikonsumsi. Pada dasarnya semua dari emas yang telah ditambang sepanjang sejarah, masih ada tersedia dan tersimpan di atas tanah. Namun demikian, emas sangat langka.

Tahukah Anda, bahwa seluruh emas yang berada diatas tanah hanya sekitar 155.000 ton. Jika ada suatu kesempatan, dapat kita kumpulkan semua emas tersebut dan memasukkan emas tersebut ke dalam satu lubang penyimpanan, ukurannya akan menjadi 8.000 meter kubik, berisi dengan jumlah yang sama dengan dasar satu per lima Washington Monument atau 3 ¼ kolam renang ukuran olimpiade. Hal penting lainya yang juga mengherankan untuk dicatat bahwa, dalam satu hari dua puluh kali lebih banyak baja yang dituangkan dari total berat emas yang ditambang sepanjang sejarah.

Pengamatan tentang moneter ini berarti bahwa permintaan emas sebagai uang. Dengan kata lain, emas adalah bangkit karena manfaat yang besar, timbul dari akibat atribut yang membuat uang.

Banyak keuntungan yang membuat emas sebagai uang. Mungkin paling penting dalam saat ini, ditandai dengan inflasi tahunan nasional mata uang kertas, emas sebagai uang yang tidak dapat dibuat 'dari udara tipis' dengan persetujuan pemerintah. Satu lagi faktor penting yang menjadikan emas sebagai uang, adalah ‘gunung hutang’ dan kemunduran keuangan yang menggantung perekonomian dunia.

Kegagalan Bank
Ketika emas sepenuhnya ditukar menjadi uang kertas, kedua bentuk uang tetap dianggap sebagai alat pembayaran. Tetapi, kebanyakan orang lebih menyukai untuk membawa uang kertas daripada uang emas yang lebih berat dan tidak dapat dibagi. Jika orang khawatir bank mereka akan gagal, orang mengambil uang secara beramai-ramai di bank. Ini adalah apa yang terjadi di AS selama Depresi luar biasa tahun 1930an, menyebabkan Presiden Roosevelt memaksakan keadaan darurat nasional dan melarang menimbun emas oleh warganegara AS. Kejadian ini dikenal sebagai Executive Order 6102 yang sekarang sudah diakhiri.

Suku Bunga yang Rendah atau Negatif
Jika pengembalian obligasi, equities dan properti tidak memadai atau tidak mengganti kerugian yang diderita karena risiko dan inflasi, hal ini akan memicu permintaan akan emas dan investasi alternatif lain seperti pertambahan komoditas. Contoh masa seperti ini dapat dilihat pada saat Stagflation yang terjadi selama tahun 1970an dan yang menyebabkan gelembung ekonomi berlomba untuk menyimpan emas

Perang, Serbuan, Penjarahan, Krisis
Pada masa nasional kegawatan, ketakutan orang bahwa aset mereka mungkin tidak dapat dimanfaatkan dan bahwa mata uang mungkin menjadi tidak berguna. Mereka melihat emas sebagai aset kuat untuk membeli makanan atau transportasi. Dengan begitu pada masa ketidaktentuan luar biasa, teristimewa dalam ketakutan perang, maka permintaan akan naik.


(sumber)
@OptimasiEmas

Emas sebagai “Safe Haven”

Dari semua bentuk logam, emas adalah yang paling populer digunakan sebagai sarana investasi. Sepanjang sejarah, harga emas sudah sering dipakai sebagai uang dan sebagai tolak ukur atau patokan harga untuk komoditas lainnya.

Sesudah perang Dunia ke II standar emas dibentuk mengikuti konferensi 1946 Bretton Woods, untuk memperbaiki peraturan dan prosedur standar harga emas dengan patokan harga $35 per Troy Ounce (1 Troy Ounce = 31.1035 Gram). Sistem tersebut terbentuk dan dipakai sampai tahun 1971 , ketika presiden Nixon, AS, menghentikan secara langsung sistem harga emas tersebut dengan dolar Amerika Serikat.
Sejak 1968 patokan harga emas dikenal sebagai London Gold Fixing, sebuah hubungan perdagangan dengan menggunakan telepon sebanyak dua kali dalam satu hari menjumpai wakil dari lima perusahaan untuk bertukar batangan emas. Selanjutnya, hubungan bertukar emas batangan itu berkembang dan menjadi perdagangan aktif berdasarkan intra-hari Spot harga emas, Spot harga emas didapat dari pasar yang bertukar emas di seluruh dunia sewaktu mereka membuka dan tutup pasar sepanjang hari.

Penanam modal atau para investor secara umum membeli emas sebagai ‘pagar asuransi harga’ terhadap aset yang biasa yang dikenal dengan istilah “Hedging” atau tempat berlindung aman “Safe Haven” dari kekacauan ekonomi, gejolak politik, sosial, atau pergerakan kurs mata uang. Kekacauan ini termasuk kemunduran pasar investasi, inflasi, perang, dan pergolakan sosial. Investor juga membeli emas selama waktu pasar emas sedang naik “Bullish” untuk memperoleh keuntungan laba “Profit”.


Follow @OptimasiEmas

Selasa, 28 Januari 2014

"Ketika Cinta Ber-Tajwid"

Saat pertama kali berjumpa denganmu, aku bagaikan berjumpa dengan saktah, hanya bisa terpana dengan menahan nafas sebentar.

Aku di matamu mungkin bagaikan nun mati di antara idgham billagunnah, terlihat tapi dianggap tak ada.

Aku ungkapkan maksud dan tujuan perasaanku seperti Idzhar, jelas dan terang.

Jika mim mati bertemu ba disebut ikhfa syafawi, maka jika aku bertemu dirimu, itu disebut cinta.

Sejenak pandangan kita bertemu, lalu tiba - tiba semua itu seperti Idgham mutamaatsilain, melebur jadi satu.

Cintaku padamu seperti Mad Wajib Muttasil, paling panjang di antara yang lainnya.

Setelah kau terima cintaku nanti, hatiku rasanya seperti Qalqalah kubro, terpantul- pantul dengan keras.

Dan akhirnya setelah lama kita bersama, cinta kita seperti Iqlab, ditandai dengan dua hati yang menyatu.

Sayangku padamu seperti mad thobi’i dalam Quran. Buanyaaakkk beneerrrrr :D

Semoga dalam hubungan kita ini kayak idgham bilagunnah, cuma berdua, lam dan ro’.

Layaknya waqaf mu’annaqah, engkau hanya boleh berhenti di salah satunya. Dia atau aku?

Meski perhatianku tak terlihat seperti alif lam syamsiah, cintaku padamu seperti alif lam Qomariah, terbaca jelas.

Kau dan aku seperti Idghom Mutaqorribain, perjumpaan 2 huruf yang sama makhrajnya tapi berlainan sifatnya.

Aku harap cinta kita seperti waqaf lazim, berhenti sempurna di akhir hayat.

Sama halnya dengan Mad ‘aridh dimana tiap mad bertemu lin sukun aridh akan berhenti, seperti itulah pandanganku ketika melihatmu.

Layaknya huruf Tafkhim, namamu pun bercetak tebal di pikiranku.

Seperti Hukum Imalah yang dikhususkan untuk Ro’ saja, begitu juga aku yang hanya untukmu.

Semoga aku jadi yang terakhir untuk kamu seperti mad aridlisukun :D




Sumber: Forum milist email

Evaluasi Diri Sendiri

Seorang bocah laki-laki masuk ke sebuah toko. Ia mengambil peti minuman dan mendorongnya ke dekat pesawat telepon koin. Lalu, ia naik ke atasnya sehingga ia bisa menekan tombol angka di telepon dengan leluasa. Ditekannya tujuh digit angka. Si pemilik toko mengamati-amati tingkah bocah ini dan menguping percakapan teleponnya.

Bocah: “Ibu, bisakah saya mendapat pekerjaan memotong rumput di halaman Ibu?”

Ibu (di ujung telepon sebelah sana): “Saya sudah punya orang untuk mengerjakannya.”

Bocah: “Ibu bisa bayar saya setengah upah dari orang itu.”

Ibu: “Saya sudah sangat puas dengan hasil kerja orang itu.”

Bocah (dengan sedikit memaksa): “Saya juga akan menyapu pinggiran trotoar Ibu dan saya jamin di hari Minggu halaman rumah Ibu akan jadi yang tercantik di antara rumah-rumah yang berada di kompleks perumahan ibu.”

Ibu: “Tidak, terima kasih.”

Dengan senyuman di wajahnya, bocah itu menaruh kembali gagang telepon. Si pemilik toko, yang sedari tadi mendengarkan, menghampiri bocah itu.

Pemilik Toko: “Nak, aku suka sikapmu, semangat positifmu, dan aku ingin menawarkanmu pekerjaan.”

Bocah: “Tidak. Makasih.”

Pemilik Toko: “Tapi tadi kedengarannya kamu sangat menginginkan pekerjaan.”

Bocah: “Oh, itu, Pak. Saya cuma mau mengecek apa kerjaan saya sudah bagus. Sayalah yang bekerja untuk Ibu tadi!”

Seperti anak kecil ini, sebaiknyalah kita mengevaluasi tentang apa yang kita kerjakan di tahun ini untuk memastikan kualitas yang lebih baik di tahun depan.


Sumber: Milist Email

Ketidakpastian Nilai Nominal dan Nilai Manfaat Uang Kertas


Uang kertas itu punya dua nilai, pertama Nilai Nominal. 1000, 2000, 1jt, 100jt. Yang kedua Nilai Manfaat, contoh 2000 bisa buat bayar parkir, 1000 bisa buat beli rokok, dsb.

Sayangnya si uang kertas ini, antara nilai nominal dan manfaatnya ini selalu berubah. Contoh, 1 juta hari ini nilai manfaatnya berbeda dengan 1jt di 10 tahun yang lalu atau 10 tahun yang akan datang. Dan berubahnya itu makin nyusut. Uang 1 juta tahun 1980 bisa membeli sepeda motor baru, dari showroom lagi, tapi hari ini uang 1 juta hanya bisa membeli sepeda tanpa motor, sepeda anak-anak pula.

Ini yang paling menyebalkan dari Uang Kertas, KETIDAKPASTIAN. Antara Nilai Nominal dan Nilai Manfaatnya selalu berubah.

Sementara itu, uang Dinar EMAS umat Islam, dari zaman Islam mulai berkembang dulu sampai saat ini zaman internet, 1 Koin Dinar EMAS masih tetap bisa membeli seekor kambing yang layak. Nah ini yang bener, NILAI NOMINAL dan NILAI MANFAATNYA selalu sama, tidak pernah berubah. Ini yang bener, memberikan kepastian kepada penggunanya terutama dalam berniaga.

Tahun 2007, seandainya saat itu saya punya uang 1 Milyar, kemudian uang tersebut saya depositokan dengan suku bunga 10% per tahun, kemudian bunga dari deposito tersebut tidak saya ambil alias ditambahkan kembali ke deposito tersebut, istilahnya bunga berbunga. Maka uang saya 5 tahun kemudian akan menjad 1,67 Milyar, itupun belum dipotong pajak.

Sementara, tahun 2007 harga EMAS saat itu 200 ribuan/gram. Seandainya uang 1 Milyar tersebut saya belikan EMAS, maka saya akan memperoleh EMAS sebanyak 5 kilo gram.

Nah, 5 tahun kemudian harga EMAS menjadi 520 ribuan/gram. Ternyata uang Rp 1,67 Milyar tersebut 5 tahun kemudian tidak mampu dipakai untuk membeli Emas sebanyak 5 kilo gram lagi. Karena untuk membeli EMAS sebanyak 5 kilo gram, saya membutuhkan dana sedikitnya 2,6 Milyar. Artinya selama 5 tahun saya sudah KEHILANGAN daya beli sekitar 1 Milyar.

Makanya saya bilang, sebuah kebodohan kalau kita masih nyimpan uang kertas lama-lama.

Investasi Emas; Lebih Baik Cicil atau Beli Secara Gradual?

Pada sebuah seminar tentang Pembiayaan Emas atau Cicilan Emas yang diselenggarakan oleh salah satu Bank Syariah, ada sebuah pertanyaan dari seorang peserta. “Pak, untung mana ambil Cicilan Emas atau membeli Emas sedikit-sedikit rutin setiap bulan? Dengan jumlah dana dan waktu yang sama?”.

Saya koreksi dulu pertanyaannya, bukan “untung”, tapi lebih maksimum mana atau lebih banyak mana jumlah EMAS yang bisa diperolehnya. Terus terang saya kurang suka dengan istilah “untung” pada investasi Emas ini, kenapa? nanti kita bahas dikesempatan berbeda.

Kelebihan dari program seperti pembiayaan Emas atau Cicilan Emas yang dimiliki oleh Bank Syariah ini adalah, Anda seperti mengunci harga Emas di hari pada saat Anda melakukan akad cicilan. Setelah Anda melakukan akad, kemudian muncul jumlah cicilan per-bulan, maka itulah yang harus Anda selesaikan sampai dengan lunas. Bagaimanapun pergerakan harga Emas tidak mempengaruhi lagi jumlah cicilan Emas Anda.

Kenapa? Karena pinjaman Anda dalam bentuk uang, bukan Emas. Bank Syariah memberikan kita pinjaman uang untuk pembelian Emas, uang tersebut + uang muka, dipakai untuk membeli Emas di Toko Emas yang menjadi rekanan bank, lunas. Setelah Emasnya diperoleh, Emas tersebut menjadi jaminan atas pinjaman yang diberikan. Jadi pinjaman Anda uang bukan Emas, pinjaman tersebut yang Anda cicil sampai lunas, setelah lunas baru Emas yang menjadi jaminan itu diserahkan pada Anda. Begitu kurang lebih mekanismenya.
Untuk menjawab pertanyaan peserta Seminar di atas, saya akan pakai data mundur ke belakang.

Pada tahun 2007, harga Emas itu sekitar Rp 200.000/gram. Seandainya saya punya target untuk memiliki 500 gram Emas dalam 5 tahun ke depan (mis untuk biaya kuliah anak) dan seandainya juga tahun 2007 Bank Syariah sudah mengeluarkan program ini. Maka, nilai Emas 500 gram saat itu setara dengan uang Rp 100.000.000. Kemudian saya ambil program Cicilan Emas, untuk membiayai kepemilikan Emas 500 gram tersebut, perhitungannya kurang lebih seperti ini:

EMAS 500g = Rp 100.000.000
Down Payment atau Uang Muka 20% = Rp 20.000.000
Cicilan Selama 60 bulan = Rp 2.200.000/bulan


Contoh di atas kalau kita menggunakan pembiayaan Emas atau Cicilan Emas di salah satu Bank Syariah. Sekarang kita balik, dengan tidak menggunakan program tersebut. Uang DP Rp 20.000.000 saya gunakan untuk membeli Emas saat itu, maka saya akan memperoleh Emas sebanyak 100 gram (100 gram x Rp 200.000/gram = Rp 20.000.000). Kemudian setiap bulan, saya membeli Emas senilai Rp 2.100.000, sama seperti mencicil, selama 60 bulan.

Ternyata setelah saya hitung (berdasarkan data historis Emas yang saya miliki), selama 60 bulan tersebut, saya hanya bisa membeli maksimum 280 gram ditambah pembelian awal sebanyak 100 gram, total seluruhnya 380 gram. Itupun dengan beberapa catatan.

1. Harga Emas berubah setiap hari, sehingga jumlah Emas yang bisa diperoleh dengan uang yang sama semakin sedikit.
2. Kemudian, uang Rp 2.100.000 hanya bisa membeli Emas dengan jumlah gram kecil, sementara kita tahu bahwa semakin kecil jumlah gram, semakin mahal ongkosnya.
3. Tidak maksimum dalam pembelian, misalnya harga Emas 5 gram = Rp 1.800.000, dengan uang Rp 2.100.000 anda tidak bisa membeli Emas 6 gram, ahirnya sia-sialah uang sisanya. Walaupun anda simpan untuk pembelian Emas bulan berikutnya, hargapun sudah berubah lagi.

Oleh karena itu, produk pembiayaan atau Cicilan Emas seperti yang dimiliki oleh Perbankan Syariah, adalah produk yang sangat luar biasa, kita seperti mengunci harga Emas di hari ini, kita seperti membeli masa depan. Emas bisa dijadikan alat untuk mengukur biaya di masa yang akan datang, cicilan Emas bisa untuk membeli masa depan.

Satu lagi, seandainya dalam perjalanan, Anda kehilangan kemampuan untuk membayar
Cicilan, Emas yang menjadi jaminan bisa di jual segera di harga saat itu untuk melunasi pinjaman kita, dana kelebihannya dikembalikan kepada Anda. Jadi ini satu-satunya pembiayaan yang tidak kenal yang namanya debt collector.

Lalu, kenapa sering saya sarankan untuk mengambil pembiayaan Emas ini dengan tenor minimal 3 tahun atau idealnya 5 tahun?

Pertama, Anda coba perhatikan historis harga emas, dari tahun 1996, Emas naik minimal 2 kali lipat setiap 5 tahun, tapi ini bukan berarti tiap tahun 20% ya… hati-hati. Jadi mengambil Cicilan Emas dengan tenor di atas 3 tahun paling ideal menurut saya.

Kedua, saya lebih mengutamakan jumlah Emas daripada percepatan lunas. Misalnya, saya mampu menyisihkan Rp 500.000/bulan, maka saya akan cari Cicilan Emas yang 5 tahun, daripada yang 3 tahun, kenapa? Dengan mengambil yang 5 tahun, jumlah Emas yang bisa saya peroleh lebih besar dibandingkan yang 3 tahun dengan jumlah cicilan yang sama. Di simpan di Bank lama juga nggak apa-apa, aman malah. Anggap saja dipaksa nabung.

Cobalah manfaatkan produk Cicilan Emas ini untuk perencanaan pembiayaan sekolah putra-putri Anda, saya yakin sekali, setelah lunas nanti, Anda akan berterima kasih pada saya.





Senin, 27 Januari 2014

Emas adalah Induk dari Semua Mata Uang

Dalam dekade 1930-an yang dikenal sebagai masa kelam ekonomi dunia. Great American Despression. Coba lihat film “Cinderella Man”, film layar lebar yang menceritakan seorang juara dunia tinju berat ringan yang untuk makan saja terpaksa harus mengantri. Sungguh kondisi ekonomi yang parah.
Kondisi ini masih diperparah dengan adanya perang dunia I sehingga banyak orang rela untuk berperang daripada bekerja. Toh tidak ada lapangan kerja yang tersedia.
Untuk mengatasi kekelaman ekonomi dikala it, maka dibuat dan ditandatanganilah perjanjian Bretton Woods sesuai nama hotel tempat perjanjian tersebut ditanda-tangani.
Salah satu isi dari perjanjian tersebut ialah membatasi percetakan atau pembuatan mata uang, bila tanpa disertai cadangan emas yang cukup bagi negara yang bersangkutan.
Walaupun pada akhirnya perjanjian ini dibatalkan oleh Amerika di tahun 1971, namun satu kesimpulan yang diperoleh adalah “The Mother of all money is GOLD”. ( Induk dari semua mata uang adalah emas ). Hal ini lah yang menjadikan pentingnya emas dalam dunia perekonomian modern, pasca Great American Despression.

EMAS VS PERANG
Ada satu kelakuan emas yang hampir selalu terjadi. Setiap ada ketidak pastian di bidang ekonomi, maka harga emas akan selalu meroket. Fakta sebaliknya, setiap ada kepastian (baca: kondisi perekonomian yang terus meningkat) maka harga emas akan menurun.
Dengan demikian, setiap kali terjadi perang atau ancaman perang, maka harga emas akan meroket. Bicara perang disini bukan hanya tentang senjata dan peluru tetapi juga ketidak pastian di bidang ekonomi. Bila kita runut maka menjelang perang teluk di bulan Agustus 1990 dapat disaksikan harga emas mencapai titik tertinggi di level 415US$/Troy Ounce. Ditahun 2008, ketika mulai terjadi perang terhadap krisis Subprime Mortgage, maka emas juga mulai meroket dan tembus hingga level 1000US$/Troy Ounce ke atas. Kondisi ketidak pastian ini terus berlanjut sampai sekarang.

EMAS VS KAMBING
Secara intelektual sudah dibahas tentang emas. Mari simak analisa berikut. Ada satu indikator yang cukup luar biasa tentang emas yaitu cukup bandingkan emas dengan harga kambing.
Semenjak di jaman Nabi Muhammad, harga 1 ekor kambing setara dengan 3 gram emas. Bila emas saat ini berada di 1150US$/TO dan 1US$ = Rp.9450,- maka 1 gram emas setara dengan Rp.350.000,-. Dan berdasarkan info terakhir sesudah hari raya kurban harga kambing saat ini sekitar Rp.800.000,-. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa untuk memperoleh 1 ekor kambing dibutuhkan cuma 2 gram lebih emas. Inipun artinya harga emas masih terlalu tinggi bila dibandingkan harga kambing.