Senin, 20 Desember 2010

Sebuah Definisi Foto Jurnalistik



Apakah foto jurnalistik itu? Buku bertajuk "Kilas Balik 2009-2010" mencoba mendefinisikannya dalam 242 foto pilihan. Buku fotografi setebal 204 halaman yang memuat kumpulan foto terbaik karya 55 pewarta foto Antara dalam dua tahun terakhir itu menjadi definisi visual foto jurnalistik.

Berlebihankah penilaian itu? Tergantung dari sudut mana melihatnya. Yang pasti, buku yang baru saja diluncurkan dan dipamerkan di Galeri Foto Jurnalistik Antara (GFJA) hingga 17 Januari 2011 itu bisa disebut sebagai upaya untuk menunjukkan eksistensi foto jurnalistik di era multimedia dan di tengah revolusi dunia fotografi yang kini semakin masif.

Mengapa bisa disebut revolusi? Saya kira kita semua sepaham bahwa sekarang ini fotografi bukan lagi sebuah bidang yang hanya digeluti oleh segelintir orang dengan keahlian khusus pula, namun kini hampir semua orang familiar dengan dunia "mat kodak" ini. Bahkan kini, fotografi digital menjadi kebutuhan setiap orang, apalagi ditunjang dengan hadirnya kamera digital yang tertanam pada ponsel dengan teknologi yang tak kalah dengan kamera-kamera biasa.

Fotografi menjadi sebuah dunia yang kian merakyat dan inklusif. Maraknya jejaring sosial di Internet yang semakin mudah diakses dari ponsel turut menunjang hal itu. Sebuah produk foto digital begitu cepat dan mudah disebarluaskan di kalangan khalayak, baik melalui Facebook, Twitter dan lainnya. Persis cara kerja dunia jurnalistik, bahkan terkadang lebih cepat penyebarannya.

Ketika masyarakat makin akrab dengan dunia fotografi digital, dimanakah posisi foto jurnalistik saat ini? Buku fotografi 'Kilas Balik 2010' barangkali bisa memberikan jawabannya. Paling tidak, dengan mencermati foto-foto yang ditampilkan dalam buku ini akan tercermin bagaimana dan seperti apakah foto jurnalistik itu.

Fotografi jurnalistik jelas berbeda dengan bidang fotografi lainnya. Ada beberapa elemen yang harus dipenuhi dalam sebuah foto untuk bisa dikategorikan sebagai foto jurnalistik.

Foto jurnalistik adalah bagian dari dunia jurnalistik yang menggunakan bahasa visual untuk menyampaikan pesan kepada masyarakat luas dan tetap terikat kode etik jurnalistik. Foto jurnalistik bukan sekadar jeprat-jepret semata. Ada etika yang selalu dijunjung tinggi, ada pesan dan berita yang ingin disampaikan, ada batasan batasan yang tidak boleh dilanggar, dan ada momentum yang harus ditampilkan dalam sebuah frame. Hal terpenting dari fotografi jurnalistik adalah nilai-nilai kejujuran yang selalu didasarkan pada fakta obyektif semata.

Para pewartanya harus selalu berada di garis depan. Mereka pun selalu siaga di garis belakang dalam mewartakan sebuah berita kepada masyarakat luas. Pewarta foto juga dituntut sigap dalam menangkap setiap "momentum" dari sebuah peristiwa, membingkainya dengan dalam sebuah gambar yang berbeda dari apa yang dilihat oleh khalayak awam. Pun yang terpenting, mereka harus mengerti dan paham atas peristiwa yang sedang diabadikannya.

Semua permasalahan itu barangkali bisa ditemukan definisi visualnya ketika menelaah lembar demi lembar buku "Kilas Balik 2009-2010". Terekam dengan jelas bagaimana seorang pewarta foto harus berada di garis depan dalam merekam peristiwa yang terjadi. Merekalah orang-orang pertama yang mengabarkan, bahkan dalam situasi yang mungkin bisa membahayakan jiwanya.

Di sisi lain, buku ini juga menjadi catatan sejarah. Di setiap penggalan sejarah selalu ada pembelajaran. "Kilas Balik 2009-2010" mencoba membuka kembali lembar-lembar sejarah yang tersimpan dan terkunci di masa lalu, mencoba merangkai dalam bingkai kekinian sehingga tersingkap makna-makna yang tersirat di balik sebuah peristiwa. Segala peristiwa yang terjadi sepanjang tahun 2009-2010 dielaborasi, dimaknai kembali dan dipaparkan dalam sebuah sajian visual.

Buku ini juga dapat dianggap sebagai sebuah pertanggungjawaban atas kesaksian para pewarta foto Antara yang selalu menjunjung tinggi nilai-nilai kebenaran universal yang diwujudkan dalam imaji digitalnya.

Pada akhirnya, jika kita sepakat untuk menjadikan buku ini sebagai sebuah definisi, dialog dan pengayaan lebih lanjut tetap diperlukan. Dan, layaknya sebuah definisi, tentunya akan muncul diskursus apakah sebuah definisi itu menjadi terlalu sempit atau malahan melebar.

Namun sebagai sebuah produk murni dari sebuah institusi yang bergerak di ranah jurnalistik, buku ini barangkali bisa dianggap sebagai sebagai salah satu upaya untuk mengawal eksistensi dan keberadaan foto jurnalistik di masa-masa yang akan datang.

M. Zarqoni Maksum
Pewarta foto Antara 
Sumber: http://www.antarafoto.com/artikel/v1292720196/sebuah-definisi-foto-jurnalistik

Rabu, 15 Desember 2010

Tips Foto Wedding

Posting ini akan membahas beberapa tips untuk fotografi pernikahaan dengan gaya fotojurnalistik atau dikenal juga dengan dengan istilah candid.

1. Refleksi

Manfaatkan pantulan pada cermin untuk mendapatkan dua frame sekaligus, seperti dibawah ini
DSC_3814 
Terkadang, pantulan dari pintu, air atau yang lainnya bisa membuat efek yang artistik
DSC_3725 
Foto pengantin wanita sewaktu make-up melalui cermin merupakan salah satu teknik klasik. Tantangannya adalah jangan sampai Anda juga ikut terpantul di cermin tersebut.

kartika-mirror

2. Hubungan antar manusia

Berkomunikasi dan menjalin hubungan baik dengan pengantin, keluarganya dan bahkan tamu dapat menambah wawasan kita dan juga dalam menentukan momen yang bernilai untuk diabadikan.
Seperti foto dibawah ini, dimana saya menangkap ekspresi dari seorang Ayah dari pengantin yang sangat berbahagia karena kehadiran tamu. Sebelumnya, saya sempat berkomunikasi dengannya dan saya mendapatkan impresi memang Bapak yang satu ini sangat mementingkan hubungan baik antar keluarga dan sanak saudara. Tanpa wawasan tersebut, mungkin foto ini tidak akan saya ambil.
kartika-1

3. Anak-anak

Seringkali, banyak anak-anak yang lucu-lucu di pernikahaan, banyak yang memakai baju yang cantik dan menarik. Selain itu, anak-anak terlihat innocent (tampang tak berdosa) dan interaksi mereka kadang terlihat lucu. Tantangan foto anak-anak adalah mereka memiliki perhatian dan kesabaran yang sangat sedikit, dan mereka berpindah-pindah dalam waktu singkat. Untuk itu diperlukan stamina dan antisipasi yang baik.
kartika-kids-1kartika-kids-2starlet

4. Emosi dan ekspresi

Pada dasarnya, penampilan luar atau ekspresi kita adalah pancaran dari hati atau emosi kita. Bila kita senang, ekspresi kita pun bahagia. Di dalam sebuah pernikahaan, kita banyak menemukan ekpresi-ekpresi yang menarik, dari yang gugup, gembira, senang, bahagia dan sebagainya. Namun, untuk menangkap the defining moments (saat-saat yang menentukan) yaitu sekejab perasaan jiwa sang subjek, maka kita harus antisipasi dengan baik dan mengambil foto pada saat yang tepat.
Dibawah ini, salah satu ekpresi wajah pengantin pria saat diberi kejutan pada hari pernikahaannya sekaligus hari ulang tahunnya
DSC_4268
Saat wedding dance, pengantin pria ini seakan-akan ingin mengatakan I love you, dengan ekpresinya.
kartika-roby 

Semoga Bermanfaat :)


Langkah Sebelum Memotret

Berbeda dengan pendapat yang popular, foto yang bagus bukan di dapat karena keberuntungan, tapi lebih ke pengambilan keputusan. Banyak hal yang perlu di pikirkan sebelum membuat sebuah foto. Untuk pemula, sulit rasanya harus memikirkan begitu banyak langkah. Tapi dengan latihan yang berkesinambungan, saya yakin kita akan dapat melakukannya secara alami.

1. Temukan subjek yang menarik

Cobalah untuk memilih subjek yang menarik, misalnya di jalan-jalan yang sibuk, usahakan mengambil foto potret dari orang, sebuah bangunan, mobil atau sebuah aktifitas. Berhati-hatilah untuk tidak memasukkan terlalu banyak elemen dalam foto tersebut. Terlalu banyak detail akan membuat orang yang melihat foto menjadi bingung tentang apa yang ingin Anda sampaikan.

2. Kualitas dan arah cahaya

Mengetahui kualitas dan arah cahaya sangat memperngaruhi suasana foto. Secara umum, ada tiga jenis cahaya
Cahaya yang keras (hard light): Biasanya diperoleh dari sumber cahaya yang relatif kecil / terkonsentrasi. Misalnya: cahaya matahari, lampu kilat kamera, senter.
Cahaya (soft light): Biasanya diperoleh dari sumber cahaya yang relatif besar. Contohnya soft box, reflektor, permukaan langit-langit.
Yang terakhir adalah cahaya yang menyebar (diffused light). Cahaya model ini berasal dari sumber cahaya yang relatif sangat besar. Misalnya langit di saat mendung atau tertutup awan.
Arah cahaya (depan, belakang, samping, atas, bawah) juga merupakan aspek yang penting untuk memberikan kesan tertentu. Perhatikan baik-baik arah dan kualitas cahaya.
Cahaya yang keras (hard light) memberikan suasana yang dramatis dan menonjolkan karakter subjek
Cahaya yang keras (hard light) memberikan suasana yang dramatis dan menonjolkan karakter subjek

3. Komposisi

Langkah pertama dalam membuat komposisi yang baik adalah memulai dari memilih latar belakang. Latar belakang yang bersih / polos adalah langkah awal yang baik. Kemudian posisikan subjek dalam lapisan-lapisan. Aturlah sedemikian rupa sehingga komposisi foto terlihat menarik.
Jika Anda baru memulai fotografi, Anda selalu bisa mempelajari rumus-rumus komposisi sebagai acuan. Banyak aturan komposisi yang bisa membantu Anda membuat komposisi yang menarik seperti rule of thirds, golden rasio, skala dan lain-lain.

4. Pilih bukaan / aperture

Bukaan lensa menentukan berapa banyak cahaya yang masuk ke bodi kamera. Bukaan juga mengatur kedalaman fokus (depth of field). Semakin besar bukaan lensa, semakin tipis kedalaman fokus dan sebaliknya. Kita harus menentukan apakah foto yang kita ambil memiliki kedalaman fokus yang tipis atau dalam.
Secara umum untuk foto potret, kita ingin kedalaman fokus yang tipis sehingga potret tersebut terlihat lebih artistik, sehingga bukaan yang kita pilih seharusnya besar. Tapi kalau kita foto pemandangan, kita biasanya ingin semua elemen dalam foto terlihat jelas dan fokus, maka bukaan yang kita pilih seharusnya kecil.

5. Pilih kecepatan rana / shutter speed

Kemudian, kita harus menentukan apakah kita mau membekukan subjek foto, atau merekam pergerakan subjek. Bila kita ingin membekukan subjek, kita harus dengan mengeset shutter speed dengan teliti.
Untuk mencegah blur karena tangan + kamera kita bergoyang, kita juga harus mengikuti aturan 1 / ukuran fokal lensa. Kemudian kita amati berapa cepat subjek foto bergerak. Subjek foto yang bergerak dengan kecepatan tinggi membutuhkan kecepatan rana yang sangat cepat.

6. Memilih lensa dan fokal lensa yang optimal

Tidak semua lensa itu menghasilkan hasil yang sama. Ada lensa lebar, lensa standard dan lensa telefoto. Setiap fokal lensa memiliki karakteristik sendiri-sendiri. Lensa lebar memberikan kesan dimensi, distorsi, dan kedalaman fokus yang dalam. Di lain pihak, lensa telefoto membuat foto menjadi dua dimensi (efek kompresi), membuat kedalaman fokus menjadi tipis dan membesarkan subjek yang jauh.
Cobalah foto dengan lensa yang berbeda-beda dan fokal lensa yang berbeda-beda untuk semakin memahami efek-efek yang ditimbulkan tiap-tiap lensa.

7. Tentukan ekposur yang optimal

Kamera biasanya menentukan secara otomatis ekposur yang optimal. Tapi kadang setting yang dibuat kamera tidak sesuai dengan keinginan kita. Misalnya, bila kita ingin membuat foto low key (foto yang bernuansa gelap) atau high key (foto bernuansa terang), kita harus mengatur setting kamera sendiri supaya optimal.
Tentukan setting eksposur kamera tergantung dari hasil akhir yang Anda visualisasikan dengan mode manual atau gunakan fungsi kompensasi ekposur, saat mengunakan setting otomatis atau semi otomatis (P,S,A)

8. Timing

Putuskan juga apakah waktu dalam pengambilan gambar penting atau tidak. Untuk foto still life (subjek tidak bergerak), timing mungkin tidak terlalu penting. Tapi untuk candid terutama foto olahraga, timing menjadi sangat penting. Bila demikian, berlatihlah untuk bisa mengambil foto dengan timing yang tepat. Latihan antisipasi, kesabaran dan kuasailah kamera/alat fotografi Anda sehingga bisa mengambil foto dengan timing yang optimal.
Untuk foto olahraga, timing dan setting shutter speed yang optimal merupakan hal yang penting
Untuk foto olahraga, timing dan setting shutter speed yang optimal merupakan hal yang penting



(Sumber)

Senin, 13 Desember 2010

Membangun Indonesia Hebat dengan Internet Sehat dan Aman

Suatu hari seorang kerabat yang hanya lulusan SMA pernah mengatakan dengan ringan : “ Mas, internet itu adalah salah satu dari keajaiban dunia !!”. Kening saya berkerut mencoba memahami untaian kalimat yang baru saja saya dengar. Namun tak seberapa lama akhirnya saya mengangguk-angguk juga pertanda setuju sepenuh hati. Setidaknya, kerabat saya tadi telah membuktikan hal itu dalam kehidupannya sehari-hari. Ia yang seorang lulusan SMA, setelah berkutat dengan berbagai macam usaha kecil-kecilan, akhirnya menemukan internet sebagai salah satu sarana mempromosikan produknya.  Ia pun belajar sungguh-sungguh tentang dunia internet marketing dengan segala macam pernak-pernik di dalamnya. Transaksi dunia maya , paypal, google adsense, SEO, Alexa dan Pagerank pun menjadi menu sehari-sehari dalam kehidupan barunya. Tahun berlalu dengan cepat, kini ia seorang pengusaha ekspor impor ‘digital’ yang cukup sukses untuk ukuran usianya. Menakjubkan !

Pada kesempatan lain, ada ungkapan menarik yang saya dengar dari seorang sahabat di perkuliahan paska sarjana yang saya tempuh. Ia menganalisa dengan serius –entah melalui penelitian atau tidak- lalu mengatakan : “ 90% isi internet itu positif dan hanya 10 % persen yang berisi hal-hal negatif seperti pornografi dan lain sebagainya, tapi sayangnya adalah 90% pengguna internet justru mengakses yang 10 % negatif itu ! “. Mata saya terbelalak hebat, analisa yang saya sendiri tidak percaya sepenuhnya dan tidak berharap itu benar. Tapi gambaran yang saya temui di kanan kiri memang sedikit membuktikan bahwa pengguna internet –khususnya yang pemula atau anak muda- benar-benar meniatkan dalam berinternet untuk melihat dan mendownload foto-foto telanjang. Sebuah penelitian di satu kota di Jawa Timur bahkan menyebutkan 78 % pelajar datang ke warnet hanya untuk mengakses situs porno.

Jika ini yang terjadi, maka internet bisa berubah dari keajaiban dunia menjadi perusak dunia. Materi pornografi senantias menyisakana pekerjaan rumah yang begitu menyedihkan bagi sebuah bangsa. Sudah banyak saya kira penelitian dan angka-angka yang menyebutkan pengaruh materi pornografi dan pemerkosaan seksual. Salah satunya sebagaimana disebutkan dalam situs fakta ilmiah bahwa “ Dinas Penelitian dan Statistik Kriminalitas New South Wales (1991) dan Satuan Statistik Kepolisian New South Wales (1988-1989) menemukan bahwa saat pornografi diperbolehkan di New South Wales pada tahun 1975 – 1991, terdapat peningkatan taraf perkosaan sebesar 90.6% “.

Lalu bagaimana kabar internet di Indonesia ? Tak kurang mesin pencari dunia maya ‘mbah Google’ yang sering menjadi rujukan dalam berselancar, menempatkan Indonesia berada di posisi 6 dunia untuk urusan pengakses laman berisikan pornografi. Sedihnya, pengakses paling banyak laman pornografi tersebut justru berasal dari kota-kota pelajar dan rujukan pendidikan. Uniknya, ternyata jumlah situs porno asli Indonesia sebenarnya jumlahnya ‘hanya’ satu juta dari 24,5 juta situs dengan admin orang Indonesia. Artinya memang tak lebih dari 5 % dari jumlah situs yang ada, namun sayangnya pengaksesnya justru mencapai lebih dari separuh bahkan tiga perempat internet user yang ada. Dari angka-angka di atas, mau tidak mau saya harus mengamini analisa sederhana yang disampaikan sahabat saya di atas.

Jadi, bagi saya kesimpulan sederhananya adalah : Sekiranya pengguna internet berinternet secara sehat dengan sibuk mengoptimalkan situs-situs bermanfaat yang jumlahnya jauh lebih banyak dari situs sampah, maka yang terjadi adalah internet benar-benar menjadi sebuah keajaiban. Mengubah keterbatasan menjadi keunggulan. Menguasai informasi dan pada saat yang sama memanfaatkannya dalam kehidupan sehari-hari. Maka hari-hari ini sungguh telah banyak kita lihat ibu rumah tangga piawai berbisnis dari balik layar komputer di rumahnya. Pemuda lulusan SMA menjadi fasih bicara internet marketing dan mempraktekannya dengan sungguh-sungguh. Atau mungkin guru, dosen, mahasiswa, karyawan, yang  menuangkan ide, fikiran dan ilmunya dalam sebuah blog, hingga mendapatkan banyak jaringan dan pertemanan yang mengagumkan.
Saya yakin banyak keajaiban yang akan terus terjadi saat kita komitmen dengan internet sehat. Bukan tidak mungkin, salah satu jalan untuk mewujudkan Indonesia kita lebih hebat adalah dengan mengenalkan dan mengkampanyekan internet sehat secara massif dan berkelanjutan.

Lalu, sahabat Indonesia yang optimis, apa saja yang bisa kita lakukan untuk memberikan kontribusi mulia mewujudkan internet sehat untuk bangsa Indonesia yang kita cintai ini ? Mari bersama kita cermati empat langkah berikut ini :

Pertama : Mengawal Regulasi yang Cermat untuk mewujudkan Internet Sehat
Sebuah peraturan yang cermat perlu dilahirkan untuk membatasi gerak para ‘oknum’ atau bahkan ‘mafia’ internet yang menikmati banyak untung dengan tersebarnya konten pornografi di internet. Sayangnya, banyak pihak yang terlalu cepat menuding bahwa seluruh peraturan di bidang internet misalnya, adalah pemberangusan terhadap hak berpikir dan berkarya anak bangsa. Anggapan ini memang tidak sepenuhnya salah. Yang terjadi memang –sebagaimana analisa para pakar di bidang ini- bahwa internet service provider (ISP) ibaratnya sebuah komplek perumahan besar, yang di dalamnya mungkin terletak masjid, pondok pesantren, puskesmas,warung makan, namun pada saat yang sama ada juga disana : kafe, warung miras, rumah bordil, dan lain sebagainya. Hal inilah yang menjadi dilemanya, karena menutup akses ke lingkungan perumahan tersebut, berarti ikut menutup akses ke masjid, puskesmas dan lain sebagainya. Karena inilah, sebuah regulasi memang harus cermat untuk mewujudkan pembumian internet sehat di hati masyarakat. Mari bersama kita mengawalnya.

Contoh Langkah Konkrit :
  1. Mengadakan pertemuan, konsultasi, formal maupun nonformal, atau seminar yang khusus membahas regulasi dalam dunia internet, antara Pemerintah, Praktisi dan Pakar Internet, maupun penyedia jasa Internet Service Provider.
  2. Para pengamat berusaha untuk memberikan telaah yang objektif atas setiap rancangan regulasi. Hal ini akan mencerdaskan masyarakat, sehingga bisa bersikap lebih elegan, dalam arti tidak menolak setiap regulasi dengan membabi buta, dan tidak pula hanya tunduk patuh tanpa memahami hak-haknya.

Kedua : Meningkatkan Kesadaran para Orang Tua
Rumah adalah benteng yang kokoh dari segala ancaman kerusakan moral anak-anak kita. Selama mereka di rumah mendapatkan bimbingan yang luwes dan kontinyu, maka anak-anak kita lebih akan terjaga dari efek negatif penggunaan internet yang salah kaprah. Karenanya, para orang tua harus segera mengambil peran penting. Dari mulai hal teknis, yaitu adanya ketentuan penggunaan internet di rumah, hingga pengawasan yang memadai kegiatan internet anak-anaknya. Hal ini bisa dimulai dari hal yang paling sederhana, misalnya dengan tidak meletakkan komputer di dalam kamar anak, atau mematikan saluran internet di malam hari, atau  mengaktifkan software parental untuk memblok situs-situs yang aneh dan tidak mendidik. Namun ini semua harus diikuti dengan arahan dan bimbingan untuk pemanfaatan internet yang optimal. Mengenalkan situs bermanfaat yang sangat banyak terserak, agar anak-anak kita tidak hanya menghabiskan waktu berinternetnya dengan situs jaringan pertemanan saja.

Contoh Langkah Konkrit :
  1. Memberikan sosialisasi internet sehat di kalangan orangtua, melalui forum-forum wali murid atau kelas-kelas parenting, atau pertemuan ibu-ibu PKK misalnya.
  2. Memfasilitasi dan mengajarkan pada para orang tua untuk mampu mengguankan software parental atau browser khusus anak-anak pada komputer yang berinternet di rumahnya,
  3. Mendidik para orang tua agar lebih 'sadar' dan 'melek' internet, sehingga dengan sendirinya mereka bisa menjadi guide bagi anak-anaknya saat berselancar di dunia maya.

Ketiga : Semangat Mengkampanyekan Internet Sehat
Sebuah gagasan besar dan mulia membutuhkan strategi kampanye yang hebat pula. Kita tidak bisa hanya berdiam diri, menunggu gagasan internet sehat membumi di Indonesia hanya dengan berpangku tangan saja. Semua pihak harus ikut berpartisipasi, sesuai dengan kemampuan dan ketrampilan yang dimiliki. Baik itu pemerintah, perusahaan swasta, tokoh masyarakat, akademisi, blogger, dan semua stakeholder dalam pembangunan watak dan karakter bangsa, harus turun ke gelanggang untuk mengkampanyekan internet sehat secara dinamis dan intensif. Harapan kita sederhana, beberapa tahun ke depan akan banyak pengguna internet -yang dahulunya adalah ‘korban’ dari penggunaan internet yang negatif – akan berubah menjadi pejuang internet sehat, sesuai dengan caranya masing-masing.

Contoh Langkah Konkrit :
  1. Membuat wadah, komunitas, atau forum yang intens menyuarakan internet sehat di tengah-tengah masyarakat kita.
  2. Membuat kurikulum dan materi yang komprehensif seputar internet sehat, sehingga bisa diajarkan dalam kelas formal maupun non formal, dari mulai kurikulum SMP, SMA, Perkuliahan, atau bahkan untuk materi khutbah Jumat sekalipun.
  3. Perjuangan di dunia maya harus diikuti dengan dukungan media cetak di dunia nyata, pengguna internet di Indonesia memang diperkirakan sudah mencapai 45 juta per Juli 2010, namun belum banyak yang mengetahui seputar Internet Sehat. Karenanya, sosialisasi dan bahasan seputar Internet Sehat juga harus diupayakan dapat disebarkan melalui media cetak baik nasional maupun lokal.

Keempat : Optimalisasi dan Perbaikan Konten yang Sehat
PT Telkom Indonesia  pernah membuat survei yang menghasilkan angka bahwa 90% akses internet di Indonesia hanya digunakan untuk akses pada jejaring sosial (Facebook, Twitter) serta situs yang kurang bermanfaat lainnya. Apa yang bisa kita baca dari survei di atas ? Bahwa anjuran internet sehat harus berbanding lurus dengan ketersediaan situs-situs atau blog yang menarik dan bermanfaat. Internet yang sehat bukan sekedar menjauhi konten negatif, tetapi juga mengarahkan seseorang untuk mengoptimalkan waktu jelajah internetnya, bukan hanya untuk sekedar menyapa dan berkomentar dalam situs pertemanan dan jaringan sosial. Karenanya, baik para pengelola situs, atau blogger, hendaknya berusaha keras untuk menaikkan daya tawar web yang dikelola, agar bisa membuat para pengguna internet terkesima dan tertarik sedemikian rupa, hingga tidak hanya berkutat di jaringan pertemanan semata.

Contoh Langkah Konkrit :
  1. Mengadakan pelatihan menulis di blog baik bagi para guru, akademisi, maupun masyarakat yang tertarik secara umum dari setiap segmennya. Sehingga mereka tidak hanya sekedar bisa menulis, namun juga mengelola blog dengan baik agar tampil dengan performance blog yang lebih bermutu dan menarik.
  2. Mengadakan kontes Blog secara berkesinambungan, baik skala nasional, lokal, maupun di sekolah-sekolah. Kontes dan perlombaan blog ini hendaknya dilengkapi dengan kriteria penjurian yang objektif dan menantang, bukan 'hanya' kontes SEO semata, sehingga akan menghasilkan blogger-blogger yang terus memacu diri untuk selangkah lebih baik dari sebelumnya.
Memulai dari yang kita Mampu !
Mungkin ada sebuah pernyataan yang segara tersirat dalam benak kita, bahwa sekian langkah di atas hanya bisa dijalankan oleh pemerintah, perusahaan, atau lembaga yang mapan dari sisi sumber daya dan dana. Maaf, saya tidak sepenuhnya sepakat dengan pernyataan tersebut, karena pada dasarnya kita mampu melangkah dan memperjuangkan internet sehat sesuai dengan ranah dan kemampuan kita. Jika kita adalah seorang blogger, maka kita mulail dengan 'membombardir' dunia maya dengan postingan-postingan yang menarik dan inspiratif seputar internet sehat. Jika kita adalah seorang tokoh warga atau ketua RT misalnya, maka bisa kita mulai dengan melihat-lihat kondisi warnet di lingkungan kita, berikan satu dua kalimat arahan yang bijak agar para pengelola warnet dan operatornya bisa ikut bekerja sama menjaga 'kesehatan' warnetnya. Contoh nyata inisiatif semacam ini telah digulirkan oleh Bupati Jepara Hendro Martojo melalui Surat Edaran tertanggal 08 Juli 2010 seputar Warnet Sehat ditujukan kepada seluruh pengelola warnet di daerahnya. Secara ringkas isi edaran tersebut adalah mengharapkan pengelola warnet ikut ; berpartisipasi memerangi pornografi melalui jasa yang mereka kelola , mendesain bilik warnet agar lebih terbuka, memblokir seluruh situs maupun konten internet yang mengandung pornografi, dan juga  membina dan mengarahkan pengunjung yang masih anak-anak untuk menggunakan internet sesuai dengan koridor pendidikan. Sungguh, sebuah inisiatif  praktis dari seorang Bupati yang layak kita apresiasi.

Langkah positif di atas semestinya bisa menginspirasi para kepala daerah atau juga pengelola warnet di daerah lainnya. Pengelola warnet bisa memulai dengan menetapkan peraturan-peraturan lokal yang arif dan aplikatif untuk mewujudkan internet sehat. Atau mungkin kita bisa lebih tegas dengan merobohkan bilik-bilik internet  sempit yang mengundang hasrat untuk bermaksiat tersebut. Warnet tanpa bilik yang sempit, adalah salah satu langkah nyata untuk mewujudkan internet yang lebih sehat. Bahkan, warnet tanpa bilik yang sempit akan mampu menghadirkan suasana yang profesional, elegan dan bersahabat.

Selain itu semua, lebih potensial lagi, jika kita adalah seorang guru, dosen atau kepala Sekolah. Dengan sederhana kita bisa torehkan sebuah kebijakan internet sehat melalui penugasan-penugasan kepada anak didik di sekolah atau mahasiswa di kampus. Salah satu contoh yang menginspirasi saya, sekaligus menguatkan bahwa kampanye internet sehat bisa dimulai dari diri dan lingkungan kita, adalah apa yang telah dicapai oleh Bapak Dedi Dwitagama. Beliau adalah seorang kepala sekolah di SMK Negeri 36 Cilincing Jakarta, juga seorang blogger dan trainer yang berpengalaman. Lebih dari itu, beliau adalah seorang yang cerdas dalam memasyarakatkan internet sehat. Kebijakan yang unik pun telah beliau torehkan, yaitu mewajibkan seluruh guru dan siswa di sekolahnya agar mempunyai akun Facebook dan membuat blog. Lebih unik lagi, beliau menambahkan syarat pengambilan ijazah bagi siswa yang telah lulus adalah minimal  telah menulis 100 postingan di blognya masing-masing !. Sungguh, saya belum pernah mendengar yang lebih praktis dan lebih tajam seputar membumikan internet sehat selain apa yang telah digagas oleh bapak Dedi Dwitagama ini. Semoga kita bisa terinspirasi untuk menorehkan langkah-langkah unik lainnya, tentunya sesuai dengan kemampuan kita masing-masing.

Akhirnya, pekerjaan rumah kita benar-benar telah berserak di hadapan. Memalingkan generasi hari ini dari konten yang tidak bermanfaat menuju konten berharga bak mutiara. Mengubah internet dari sebuah ancaman perusak moral, menjadi salah satu keajaiban dunia dalam pembentukan kreatifitas dan pengetahuan anak bangsa. Dengan internet sehat, mewujudkan Indonesia yang hebat bukan lagi impian semata. Mari bersama mewujudkannya. Mari bersama memberikan harapan untuk Indonesia. Salam Optimis ! (Sumber)

Rabu, 08 Desember 2010

Orang Pertama Penemu Fotografi dan Kamera


http://i218.photobucket.com/albums/cc129/truebluesky/people/LouisDaguerre.jpgFotografi! Tak lain dari Louis Jacques Mande Daguerre-lah orang yang di tahun 1830-an berhasil menemukan fotografi praktis.

Daguerre dilahirkan tahun 1787 di kota Cormeilles di Perancis Utara. Waktu mudanya dia seniman. Pada umur pertengahan tiga puluhan dia merancang “diograma”, barisan lukisan pemandangan yang mempesona bagusnya, dipertunjukkan dengan bantuan efek cahaya. Sementara dia menggarap pekerjaan itu, dia menjadi tertarik dengan pengembangan suatu mekanisme untuk secara otomatis melukiskan kembali pemandangan yang ada di dunia tanpa menggunakan kwas atau cat. Dengan kata lain: kamera!

Tingkat pertama perancangan alat kamera yang bisa berfungsi tidak berhasil. Di tahun 1827 dia ketemu Joseph Nicephore Niepce yang juga sedang mencoba (dan sejauh itu lebih sukses) menciptakan kamera. Dua tahun kemudian mereka menjadi kongsi. Di tahun 1833 Niepce meninggal, tetapi Daguerre tetap tekun meneruskan percobaannya. Menjelang tahun 1837 dia sudah berhasil mengembangkan sebuah sistem praktis fotografi yang disebutnya “daguerreotype.”
Tahun 1839 Daguerre memberitahu publik secara terbuka tanpa mempatenkannya. Sebagai imbalan, pemerintah Perancis menghadiahkan pensiun seumur hidup kepada baik Daguerre maupun anak Niepce. Pengumuman penemuan Daguerre menimbulkan kegemparan penduduk. Daguerre merupakan seorang pahlawan saat itu, ditaburi rupa-rupa penghormatan, sementara metode “daguerreotype” dengan cepat berkembang menjadi hal yang digunakan oleh umum. Daguerre sendiri segera pensiun. Dia meninggal tahun 1851 di kota asalnya dekat Paris.

Tak banyak penemuan teknologi yang begitu banyak digunakan awam seperti halnya fotografi. Dia digunakan di hampir tiap bidang penyelidikan ilmu. Begitu juga di bidang industri dan militer. Sarana yang vital di kalangan rakyat biasa, hobbi menyenangkan buat berjuta orang. Fotografi ambil bagian dalam penyebaran penerangan (atau penipuan untuk mengelabui orang lewat informasi palsu), di bidang pendidikan, jurnalistik dan iklan. Berhubung fotografi mampu dengan cepat mengingatkan orang akan masa lampaunya, dia menjadi sarana suvenir dan kenang-kenangan yang tersebar luas. Sinematografi, tentu saja, merupakan perkembangan berikutnya yang punya arti penting-selain melayani dan merupakan sarana hiburan yang tak bisa diabaikan-juga saina banyak digunakan setara dengan foto “diam.”

Tak ada penemuan ilmiah yang dilakukan oleh seseorang sendirian tanpa ada petunjuk dari orang-orang sebelumnya seperti Daguerre. “Kamera obscura” (alat serupa dengan kamera tetapi tanpa film) telah diketemukan orang delapan abad sebelum Daguerre. Di abad ke-16, Girolamo Cardano membuat langkah menempatkan lensa di muka “kamera obscura” terbuka. Ini merupakan langkah penting menuju lahirnya kamera modern. Tetapi karena bayangan yang dihasilkan tidak tahan lama samasekali, sulitlah dianggap sebuah fotografi. Penemuan pemula lainnya diketemukan tahun 1727 oleh Johann Schulze yang menemukan bahwa garam perak sangat sensitif terhadap cahaya. Meskipun dia gunakan penemuan ini untuk membuat gambar sementara, Schulze tak punya gambaran bagaimana cara semestinya meneruskan gagasannya.
Pendahulu yang dekat dengan apa-apa yang berhasil diperbuat Daguerre adalah Niepce yang kemudian menjadi partner Daguerre. Sekitar tahun 1829 Niepce menemukan bahwa batuan tebal hitam dari Judea, sejenis aspal, sangat peka terhadap cahaya. Dengan menggabungkan benda peka cahaya dengan “kamera obscura,” Niepce berhasil membuat foto pertama di dunia (salah satu yang dijepretnya tahun 1826 masih ada hingga sekarang). Atas dasar itu, beberapa orang menganggap Niepce-lah yang layak dianggap sebagai penemu fotografi. Tetapi sistem fotografi Niepce sepenuhnya tidak praktis karena memerlukan tidak kurang dari delapan jam untuk pengambilannya dan itu pun cuma menghasilkan gambar yang guram.
Kamera resmi Daguerre yang diprodusir iparnya, Alphonse Girous, dibubuhi cap yang berbunyi: “Tanpa tanda tangan M. Daguerre dan tanda M. Giroux, tidak terjamin.”karena itu punya arti praktis yang berlebih.

Pada metode Daguerre, gambar direkam di atas lembar yang berlapis “iodide perak”. Waktu pengambilan yang dibutuhkan antara 15-20 menit sudah cukup memadai walau berabe bawanya karena berat, toh berguna. Dua tahun sesudah Daguerre mempertunjukkan ciptaannya di depan umum, orang-orang usul penyempurnaan: penambahan “cairan perak” pada “iodide perak” yang peka cahaya. Perubahan kecil ini punya pengaruh banyak mengurangi waktu yang diperlukan buat pemotretan, karena itu punya arti praktis yang berlebih.

Tahun 1839, sesudah Daguerre mengumumkan secara terbuka hasil penemuan fotografinya, William Henry Talbot, seorang ilmuwan Inggris, memberitahukan pula bahwa dia telah mengembangkan metode fotografi lain, lewat cara pencetakan negatif, seperti dilakukan orang sekarang ini. Menarik untuk dicatat, Talbot sesungguhnya sudah memprodusir alat potret di tahun 1835, dua tahun sebelum keluarnya model Daguerre. Talbot, yang juga melibatkan diri dalam pelbagai proyek, tidak lekas-lekas meneruskan eksperimen fotografinya. Kalau saja hal ini dilakukannya, mungkin sekali dia bisa memprodusir alat potret yang komersil sebelum Daguerre melakukannya, dan bisa dianggap sebagai penemu fotografi.

Tahun-tahun sesudah Daguerre dan Talbot, beruntun dilakukan orang pelbagai penyempurnaan: proses lembaran basah, proses lembaran kering, rol film modern, film berwarna, film bioskop, polaroid dan xerografi. Kendati banyak orang yang terlibat dalam pengembangan fotografi, saya anggap Louis Daguerre-lah orang yang paling banyak beri sumbangan pikiran. Tak ada sistem yang patut dipakai sebelum Daguerre dan sistem yang dikembangkannya paling praktis dan paling diterima secara luas. Lebih dari itu, penyiaran yang luas dari hasil penemuannya merupakan daya dorong buat penyempurnaan-penyempurnaan selanjutnya. Memang benar, fotografi yang kita kenal sekarang jauh berbeda dengan sistem Daguerre, tetapi walaupun misalnya tidak ada penyempurnaan apa pun, toh apa yang dibuat Daguerre sudah dapat dimanfaatkan.
 
 
Sumber : http://terselubung.blogspot.com/2010/12/orang-pertama-yang-menemukan-fotografi.html

Senin, 06 Desember 2010

Tuhan, Profesor & Mahasiswa

Seorang mahasiswa berhasil mematahkan pertanyan dari "PROFESOR" Seorang Profesor dari sebuah universitas terkenal menantang mahasiswa-mahasiswanya dengan pertanyaan ini, "Apakah Tuhan menciptakan segala yang ada?". Seorang mahasiswa dengan berani menjawab,"Betul, Dia yang menciptakan semuanya". "Tuhan menciptakan semuanya?" Tanya professor sekali lagi. "Ya, Pak, semuanya" kata mahasiswa tersebut. Profesor itu menjawab, "Jika Tuhan menciptakan segalanya, berarti Tuhan menciptakan Kejahatan. Karena kejahatan itu ada, dan menurut prinsip kitabahwa pekerjaan kita menjelaskan siapa kita, jadi kita bisa berasumsi bahwa Tuhan itu adalah kejahatan". "Mahasiswa itu terdiam dan tidak bisa menjawab hipotesis professor tersebut.

Profesor itu merasa menang dan menyombongkan diri bahwa sekali lagi dia telah membuktikan kalau Agama itu adalahsebuah mitos. Mahasiswa lain mengangkat tangan dan berkata,"Profesor, boleh saya bertanya sesuatu?". "Tentu saja," jawab si Profesor, Mahasiswa itu berdiri dan bertanya, "Profesor, apakah dingin itu ada?" "Pertanyaan macam apa itu? Tentu saja dingin itu ada. Kamu tidak pernah sakit flu?" Tanya si professor diiringi tawa mahasiswa lainnya. Mahasiswa itu menjawab, "Kenyataannya, Pak, dingin itu tidak ada. Menurut hukum fisika, yang kita anggap dingin ituadalah ketiadaan panas. Suhu -460F adalah ketiadaan panas sama sekali. Dan semua partikel menjadi diam dan tidak bisa bereaksi pada suhu tersebut. Kita menciptakan kata dingin untuk mendeskripsikan ketiadaan panas."

Mahasiswa itu melanjutkan, "Profesor, apakah gelap itu ada?" Profesor itu menjawab, "Tentu sajaitu ada." Mahasiswa itu menjawab, "Sekali lagi anda salah, Pak. Gelap itu juga tidak ada. Gelap adalah keadaan dimana tidak ada cahaya. Cahaya bisa kita pelajari,gelap tidak. Kita bisa menggunakan prisma Newton untuk memecahkan cahaya menjadi beberapa warna danmempelajari berbagai panjang gelombang setiap warna. Tapi Anda tidak bisa mengukur gelap. Seberapa gelap suatu ruangan diukur dengan berapa intensitas cahaya di ruangan tersebut. Katagelap dipakai manusia untuk mendeskripsikan ketiadaan cahaya."

Akhirnya mahasiswa itu bertanya, "Profesor, apakah kejahatan itu ada?" Dengan bimbang professor itu menjawab, "Tentu saja, seperti yang telah kukatakan sebelumnya. Kita melihat setiap hari di Koran dan TV. Banyak perkara kriminal dan kekerasan di antara manusia. Perkara-perkara tersebut adalah manifestasi dari kejahatan." Terhadap pernyataan ini mahasiswa itu menjawab,"Sekali lagi Anda salah, Pak. Kajahatan itu tidak ada. Kejahatan adalah ketiadaan Tuhan. Seperti dingin atau gelap, kajahatan adalah kata yang dipakai manusia untuk mendeskripsikan ketiadaan Tuhan. Tuhan tidak menciptakan kajahatan. Kajahatan adalah hasil dari tidak adanya kasih Tuhan dihati manusia. Seperti dingin yang timbul dari ketiadaanpanas dan gelap yang timbul dari ketiadaan cahaya." profesor itu terdiam. Dan mahasiswan tersebut adalah ALBERT EINSTEN. (Sumber)