Senin, 03 Februari 2014

Cara Mengetahui Ciri-Ciri Emas Asli Atau Palsu

Emas palsu adalah emas dengan kadar yang sangat rendah, misal 10 karat atau kurang. Tidak ada ukuran pasti. Kita pasti ingin tahu apakah emas yang akan kita beli atau emas yang sudah kita miliki adalah emas asli. Sebagai tips awal, jika ingin berinvestasi emas pastikan membeli di toko-toko emas dengan sertifikasi yang sudah terkenal/teruji misalkan kalau di Indonesia ya LM emas keluaran Antam atau dinar keluaran gerai dinar (yang dicetak juga oleh Antam).
Dengan sertifikasi tersebut paling tidak kita sudah mendapat garansi awal bahwa emas yang kita beli benar-benar asli sesuai spesifikasi yang ada di sertifikat. Tetapi jika ingin memeriksa untuk diri sendiri, berikut adalah beberapa cara untuk mengetahui ciri-ciri emas asli atau palsu atau berkarat rendah. Artikel ini untuk melakukan pengecekan emas secara umum, untuk emas yang bersertifikat antam lain kali akan kita bahasa diartikel tersendiri.

1. Lihat Ciri-Ciri Emas Secara Visual
Cara paling mudah yang untuk memeriksa apakah sebuah emas asli atau palsu adalah dengan melihat ciri-ciri visualnya. Amati tanda-tanda tertentu yang merupakan ciri emas murni. Biasanya dalam logam mulia atau perhiasan emas ada cap yang menandakan kadar emas, misal dalam fineness ( 1-999 atau 0.1-0.999) atau dalam karat ( 10K , 14K , 18K , 22K atau 24K ) . Jika tulisan terlalu kecil gunakan kaca pembesar untuk mempermudah pengamatan. Tetapi tidak semuanya memiliki cap, misal model-model lama. Dan emas palsu bisa jadi juga memiliki cap karat tersebut agar terlihat asli.

Cara kedua adalah cek perubahan warna. Gosok dengan jari pada bagian-bagian tertentu atau cari bagian yang kira-kira sering mendapat gesekan, misal sekitar tepi logam mulia atau koin emas. Emas palsu akan menampakkan warna logam lain yang berbeda di bawahnya sehingga terlihat warna emas tidak seragam dan bergradasi.

2. Gigit Emas-nya
Jika Anda melihat di film-film ada orang menggigit emas atau atlit Olimpiade menggigit medali emas yang baru mereka peroleh, hal tersebut lazim dan bukan tanpa tujuan. Gigit emas Anda dengan tekanan yang sedang. Cek apakah emas tersebut terdapat bekas gigitan. Secara teori, jika emas asli maka akan menunjukkan bekas goresan gigi, bekas tersebut semakin dalam jika emasnya adalah murni 24 karat.

Cara mengigit ini tentu bukan tes yang direkomendasikan, karena selain bisa merusak gigi bisa merusak kondisi fisik emas. Dan tentu saja para pemalsu masih bisa menggunakan timah berlapis emas yang juga cukup “empuk” untuk digigit.

3. Pengujian Emas Dengan Magnet
Ini adalah tes yang mudah meski tidak menentukan pasti bahwa emas benar-benar asli. Minimal kita tahu bahwa emas kita bukan logam besi yang dilapisi emas. Gunakan sebuah magnet yang kuat, jangan gunakan magnet-magnet hias yang digunakan di lemari es. Pegang magnet dan arahkan ke emas. Emas bukanlah logam magnetik , sehingga jika emas yang kita uji tertarik ke magnet dan menempel bisa dipastikan bahwa emas tersebut palsu. Namun, sekali lagi, uji dengan magnet ini bukan jaminan karena banyak logam lain juga yang non-magnetik yang bisa digunakan sebagai emas palsu.

4. Uji Densitas Emas
Sangat jarang logam dengan kepadatan (densitas/massa jenis) melebihi kepadatan emas. Kepadatan emas murni 24K adalah sekitar 19,3 g/ml , jauh melebihi kebanyakan logam lainnya. Mengukur kepadatan emas adalah salah satu cara paling rumit dan paling presisi untuk mengetahui emas asli atau palsu. Sebagai aturan praktis, semakin tinggi kepadatan maka semakin murni emas.

1.Ukur berat emas dalam gram dengan timbangan digital yang presisi.
2.Isi sebuah gelas atau botol dengan jumlah air sembarang ml (milliliter). Gunakan gelas/botol yang memiliki tanda ukuran milimeter, yang akan mempermudah untuk membaca perbedaan volume air sebelum dan sesudah dicelupkan emas. Jadi tujuannya adalah untuk mengukur volume emas dalam ml.
3.Catat jumlah persis tingkat air sebelum emas direndam.
4.Letakkan emas pada gelas dengan menggantungnya menggunakan tali. Setelah emas direndam catat tingkat air yang baru, dan hitung perbedaan sebelum dan sesudah direndam dalam ml.
5.Gunakan rumus berikut untuk menghitung kepadatan : kepadatan = massa / volume. Hasil mendekati angka 19 g/ml menunjukkan kadar emas asli.
6.Contoh perhitungan : Emas yang diuji memiliki berat 38g dan volume 2 mililiter. Menggunakan rumus [massa] / [volume] maka 38/2 = hasilnya adalah 19 g/ml , yang sangat mendekati massa jenis emas.
7.Ingatlah bahwa kemurnian emas yang berbeda akan memiliki g / ml rasio yang berbeda : 14K = 12,9-14,6 g/ml, 18K kuning = 15,2-15,9 g/ml, 18K putih = 14,7-16,9 g/ml dan 22K = 17,7-17,8 g/ml.

5. Goreskan Emas pada Keramik Atau Kertas
Ini juga salah satu cara mudah untuk mengetahui apakah emas asli atau palsu. Tetapi perlu diingat untuk menguji ini ada resiko logam mulia emas yang diuji akan tergores. Ambil piring keramik polos atau gunakan saja keramik lantai. Goreskan emas ke permukaan keramik. Jika ada goresan hitam pada keramik, berarti emas tersebut palsu tetapi jika tidak ada goresan hitam kemungkinan besar adalah asli.

Selain keramik bisa juga menggunakan emas. Sebagai perbandingan, coba goreskan uang logam lama (bukan yang alumunium) ke kertas, pasti goresan akan berwarna hitam. Tetapi jika emas asli maka tidak akan ada goresan sama sekali.

6. Uji Emas Dengan Nitric Acid
Istilah lainnya adalah “tes asam” dan merupakan cara yang cukup bagus untuk menguji keaslian emas. Tetapi tes ini memiliki resiko keselamatan dengan cairan asam, jadi harus berhati-hati sekali. Jika tidak untuk bisnis, sebaiknya tes asam ini diserahkan ke toko perhiasan emas saja. Berikut langkah-langkahnya :

1.Letakkan emas pada wadah stainless steel
2.Beri satu tetes asam nitrat pada emas dan perhatikan reaksi yang dihasilkan
3.Reaksi warna hijau menunjukkan logam besi berlapis emas
4.Reaksi emas menunjukkan logam kuningan berlapis emas
5.Reaksi warna susu menunjukkan logam perak berlapis emas
6.Jika tidak ada reaksi kemungkinan besar adalah emas asli


Follow @OptimasiEmas


(sumber)

Lebih Bijak dalam Berinvestasi Emas

Inilah investasi yang tak lekang zaman. Sebelum ada saham, deposito ataupun reksadana; menyimpan emas telah dilakukan nenek moyang dalam rangka memenuhi kebutuhan besar di hari kemudian. Hingga sekarang, emas juga masih menjadi pilihan investasi yang bersifat pasif. Beli hari ini, simpan di lemari, kemudian dimanfaatkan jika ada kebutuhan dana besar.
Namun seperti apakah investasi emas yang sesuai jalur syariah? Berikut kutipan wawancara Rizky Andriati dari Majalah Sharing dengan praktisi investasi emas sekaligus penulis buku Think Dinar, Endy J. Kurniawan di Jakarta pada pertengahan Maret lalu

1.Di zaman Rasulullah, emas adalah alat transaksi, bukan investasi.
Tanpa meninggalkan nilai-nilai syariah, apakah pas jika emas dijadikan alat investasi?
Jawab :
Di jaman Rasulullah dan sahabat-sahabat penerusnya, full bodied money yang berlaku, yaitu emas dan perak dalam bentuk dinar dan dirham. Berarti dua mata uang ini menjalankan seluruh fungsi yang kita kenal melekat pada uang yaitu : alat simpan kekayaan (dengan ditabung atau dijadikan modal ditanam), alat pengukur nilai (sebagai acuan harga komoditas yang ada di pasar), dan alat tukar (sebagai uang). Karena itulah, maka pada masa beliau SAW tidak ada kenaikan nilai barang yang dipicu penurunan nilai uang (kenaikan harga bisa terjadi hanya jika ada pergerakan pada permintaan dan penawaran). Lalu karena itulah tidak alat investasi yang ‘diam’ atau pasif. Semua harus aktif dan produktif untuk bisa menghasilkan pertambahan nilai dan memberikan keuntungan bagi pemilik asetnya. Sekarang sangat berbeda. Bagi pemilik emas mereka sebut emas sebagai investasi karena melindungi hartanya dari inflasi. Ini pilihan terbaik dibanding menyandarkan simpanan kita pada uang kertas. Selain itu, saat ini emas sangat variatif dalam bentuk seperti emas batangan, koin dinar, perhiasan, bongkahan dan cucian, sehingga masyarakat memiliki preferensinya masing-masing. Di dalam ekonomi yang menggunakan uang kertas sebagai medium transaksi, masyarakat memilih emas karena memiliki fungsi store of value yang tak lekang dimakan jaman.

2. Secara ekonomis, apakah keunggulan investasi emas?
Jawab :
Yang terutama, emas memiliki nilai hakiki dan universal serta ketahanan bentuk karena tak keras dan tak teroksidasi – karena itu pula kemudian emas (selain perak) dijadikan mata uang di beberapa etape peradaban, mulai di Lydia, Romawi hingga Turki Ustmani. Pemilik emas tak terlalu banyak upaya untuk merawatnya. Selain itu, emas secara fitrah dinilai indah oleh masyarakat sehingga memilikinya terasa menyenangkan dan menjadi lambang kesejahteraan. Emas juga liquid mudah dijual-belikan, digadaikan dan dipertukarkan langsung dengan komoditas lainnya sehingga memberi rasa aman ketika kapan saja penyimpannya memerlukan dana tunai.

3. Bagaimanakah cara berinvestasi emas yang paling tepat? Apakah perlu ikut membeli beberapa program investasi emas yang sekarang banyak ditawarkan? Jika perlu, program seperti apa yang layak?
Jawab :
Sebagai investasi pasfi yang fungsinya lebih untuk menjaga nilai aset, maka tidak ada yang lebih mudah dari investasi emas, yaitu membelinya, menyimpan kemudian menjualnya ketika dibutuhkan. Penawaran yang banyak beredar saat ini bisa dibagi 2 besar : 1. Penawaran untuk kepemilikan, seperti skema cicilan atau murabahah emas yang disediakan bank syariah dan pegadaian syariah 2. Penawaran yang me’manufaktur’ emas seolah sebagai investasi aktif dengan cara beli-gadai bertingkat, investasi emas dengan skema cash-back dan kepemilikan saham pertambangan emas. Yang nomor 2 di atas perlu hati-hati terkait ijin operasi, resiko investasi dan lisensi syar’i. Karena banyak kejadian penipuan yang belakangan ini terjadi. Untuk memproduktifkan emas hanya ada dua cara : memperjual-belikannya seperti layaknya toko emas atau menggadai/ menjualnya untuk kemudian diinvestasikan ke jenis investasi aktif lain seperti properti atau bisnis riil/ perdagangan.

4. Sejatinya mengelola kekayaan bukan hanya sekedar mengakumulasi, lalu bagaimana emas bisa memberikan mashlahat bagi banyak orang?
Jawab :
Harta yang baik adalah yang beredar dan menetes ke level ekonomi di bawahnya. Karena minat masyarakat sangat besar 4 tahun terakhir untuk berinvestasi emas, maka bank dan lembaga keuangan non bank membuka layanan kepemilikan emas dengan berbagai skema. Tentu mereka mendapatkan keuntungan, dan keuntungan itu yang kemudian bisa mengalir dalam bentuk layanan bank yang lain seperti kredit usaha dan lainnya. Selain itu ada kewajiban zakat untuk emas yang mencapai nishab dan haul, ini juga bagian dari cara agama mendorong agar sebagian harta orang berpunya mengalir lebih luas. Terakhir, produktifkan emas dengan menggadai/ menjualnya untuk kemudian diinvestasikan ke jenis investasi aktif lain seperti properti atau bisnis riil/ perdagangan. Karena nilainya terjaga, maka emas bisa menjadi penjaga aset pelaku bisnis sekaligus modal liquid yang bisa dicairkan kapan saja.

5.Agar memberikan nilai maksimal, apakah perlu emas digadaikan lalu uang gadainya dimanfaatkan untuk usaha produktif?
Jawab : Jika yang disebut nilai maksimal adalah mendapat kenaikan aset secara pasif, maka emas tak perlu diapa-apakan selain dijual ketika dibutuhkan. Jika tujuannya untuk usaha riil, maka menggadai emas adalah langkah tepat. Selain proses gadai bisa dilakukan cepat dan dilayani sangat luas oleh bank syariah dan pegadaian, emas juga bisa ditebus jika usaha kita mendapatkan keuntungan. Demikian seterusnya sehingga emas bisa membantu menjaga harta.


Follow @OptimasiEmas
Sumber: Majalah “Sharing” edisi 76 Thn VII April 2013